Pages

Sabtu, 23 Februari 2013

What's Wrong with the World?

By: Ghea Lisanova

Tanyanya. Atau sekedar meledek seusai mendengar jawaban dari penutup introgasinya akan hidupku.

“World is fine. This is us that wrong”

"Yeah, you and me are wrong, which makes the world seems so wrong”

“Hahaha. Emang apa salahnya sih having a first kiss sama sepupu sendiri?” Tanyaku, pada setidaknya seratus orang yang pernah memperdebatkan hal yang sama. Dan sekarang Bino. Cowok campuran Padang-Inggris yang baru ku kenal sejam lalu di Bar dekat apartemenku. Wajahnya diselimuti rasa penasaran yang menggelitik. Aku maklum, Bino mulai kecewa karena semua tebakannya salah. Mulai dari pekerjaanku, hobbyku, musik kesukaanku, tak ada satupun yang bisa ia terjemahkan pakai analisa physical appearance.

“Ngga ada yang salah kok. Cuma ya, sial aja semua tebakan aku salah! I thought your first kiss would be Homecoming King from your high school.”

“Sepupuku emang Homecoming King, kok. Dia orang paling populer di SMAnya. Tapi ya, waktu kita ciuman itu pas kita masih SD. Lagi sama-sama penasaran.” Jelasku.

“Oh, God! That wasn't counted as a first kiss. If that is, my first kiss would be my mother.” Katanya setengah kesal. Aku puas tertawa. “So you are a nice girl, with a boring job as a head of company in financial stuff who loves playing PSP at you spare time, listening to Rolling Stones and giving that lips virginity to your cousin.” Bino merangkum semua pembicaraan kami selama satu jam lebih ini. Kerut di dahinya menggambarkan jelas rasa penasaran yang semakin jadi. “Buatku kamu itu aktris Broadway yang pandai acting dan lagi tipu aku di sini.”

“Hahaha. Nggak lah! Ngga ada untungnya tipu kamu.” Dalam jeda beberapa detik, kami menenggak Bacardi dari gelas yang cukup lama kami cuekin. Aku melirik ke handphoneku, melihat angka 11.23 di situ. Biasanya aku sudah lari terbirit-birit mengejar jam tidur yang cuma bisa kudapat 6 jam. Damn you, kemacetan ibu kota! Tapi aku masih kerasan di sini, duduk berdampingan dengan orang asing uang sudah instan kupercayai seperempat perjalanan hidupku.

“Sekarang giliran aku deh introgasi kamu.”

“OK. But let's play a game. Kamu boleh tanya aku tapi kamu jawab sendiri. I'll buy you a drink for every question you answer right.”

“What? You wanna make me drunk? It is too easy to guess who and what you are. Kalau aku jawab sepuluh pertanyaan, sepuluh gelas bakal bikin kerjaan aku berantakan besok!” Aku menyergah.

“Come on try me! Don't be such a loser. Lagipula aku gak segampang itu ditebak.”

“OK. You ask for this.” Aku menghela nafas cukup lama dan dalam sambil berpikir pertanyaan yang sulit ku jawab sendiri. Yang aku tahu dia adalah seorang penulis skenario di salah satu PH Singapura, itupun dia yang cerita sendiri. Di Jakarta dia sedang observasi set untuk projek film terbarunya yang entah bercerita tentang apa, dia pun belum tahu. Dia bisa bicara bahasa karena masih lumayan sering pulang ke Padang untuk menjenguk ibunya yang sudah ditinggal cerai ayahnya yang kini menetap di UK. Haruskah aku bertanya apakah dia salah satu perwakilan dari anak broken home yang terlalu mencintai kebebasan? Terlalu jelas! Aku bisa menjawabnya sendiri.

“So, you are a faithful guy, that must be wrong!” Tebakku. Yang ditanya malah tertawa terpingkal-pingkal.

“Hahaha. That is true! A very faithful one. Buy you a Martini for this!”

“Hei, I have a wrong answer. No treat for this! I told you that you're not a faithful one.”

“Ah, right! Sorry, I'm too excited. Tapi aku bener orang yang setia. Kalau aku udah sama satu orang, aku sama dia terus sampai dia yang tinggalin aku.” Terangnya.

“But you don't look like that one.”

"I look like a very playful gigolo, right? But I can guarantee that I am so faithful. Keluargaku broken karena daddy ga setia sama Mommy. I really hate him, so I will hate myself once I am like him."

" wow, so you're now single that must be true."

"Yup! gampang banget. Tapi gak apa-apa, aku beliin kamu martini." Bino berpaling pada seorang bartender di situ untuk memesan dua gelas martini.

"Kamu bilang kamu setia. Kalau kamu gak single, kamu gak akan di sini minum sama orang asing. Either you cuddling with your girlfriend at home or skipe-ing, if your girlfriend is miles away."

"That's right, Baby! Cheers!" Bino mengangkat dua gelas martini, satunya ia condongkan padaku. Aku lekas meraih dan gelas-gelas kami beradu. "cling"

Dari speaker bar itu, terdengar samar-samar lagu kesukaanku, You Can't Always Get What You Want dari Rolling Stones. Pundak dan kepalaku sontak menari-nari. Liriknya terkomat-kamit pelan dibibirku. Bino tak mau kalah bergoyang, dan nyanyiannya lebih keras dari yang kupunya. Kamipun berkolaborasi. Dua alien di sebuah planet bernama bumi.

"You can't always get what you want... But if you try sometimes... well you might find..." kami bersenandung sama keras. "you get what you need!" Kami impas gila.

* * *

What's wrong with the world? Or what's wrong with me? Sudah jam 3 pagi bukannya tidur malah asik texting dengan Binosca Johnson, pria indo-bule berperawakan tinggi menjulang bak menantang langit. Aku masih hapal diantara rambut brunette gondrongnya yang membelah dahi, ada sepasang mata biru yang terus berkeliaran mencari-cari sebuah rahasia di balik mataku. Aku pun hapal berapa gelas minuman yang kudapat dari hasil taruhan kami. Lima. Selebihnya tak bisa ku tebak bahkan jauh dari ekspektasi.

"I used to not believe in marriage. Buat aku marriage seperti jual beli cinta yang butuh guarantee. Signing a piece of paper cuma untuk memastikan kita dan pasangan kita saling setia. Itu tandanya kita ga trust each other. Kalau udah sama-sama cinta dan perasaan itu kuat, gak perlu ada institusi yang mengikat." jabarnya. Aku tertegun takjub. Aku jatuh cinta pada cara ia memberikan sudut pandang. "Tapi pendirian aku yang seperti itu gak tahan lama sampai aku ketemu seseorang yang benar-benar aku cinta. Disitu aku dan dia justru memutuskan menikah, karna cinta. Dan tak bisa dijelaskan why we need marriage at that time. Aku baru tahu bahwa cinta yang terlalu kuat antara aku dan dia malah bikin kita butuh security, sama juga karna kita gak saling percaya. Till we didn't love each other anymore and we decided to divorce." Dia menghela nafas panjang. Aku membisu. Hening beberapa saat.

"She must be a very great woman” Ucapku sambil berdecak. Bino menyunggingkan senyum yang mempesona di ujung bibir merahnya.

“He, actually. He is a very great person.”

“Come again?” Aku kebingungan.

“You heard. I was having a gay marriage.” Katanya santai. Aku menganga sejadi-jadinya. Mataku membelalak lebar seperti mau loncat. Teori analisa physical appearanceku meleset. Pantas pribahasa 'don't judge a book by its cover' tak pernah basi. Jangan menilai Bino hanya dari penampilannya yang macho, pembawaannya yang cool, urat-urat tubuhnya yang sangat laki-laki. Di sisi lain dia membuatku terperanjat akan pengakuannya sebagai pria homosexual.“God, what's wrong with the world???”

“Hahaha.. What's wrong with you? I let you down? I am healed now. I love girls. Pernikahanku sama dia jadi memori petualangan hidupku yang sangat eksotis aja. Cukup.” Aku tak bisa berkata-kata. Lelaki itu.....

Handphoneku berbunyi. SMS dari Bino lagi.

Hey, I think I need you to help me observing Jakarta a lot more. So let me know when you're free. I'll kidnap you. :)

Aku lekas membalasnya sambil senyum-senyum sendiri.

It's not kidnapping when you tell me youre gonna kidnap me. Haha. OK. I'm glad when it happens.

Aku rasa, Bino tercipta dari ramuan ajaib, sembilan puluh persen alkohol dan sedikit Marijuana karna dia membuatku mabuk dan kecanduan. Dia harus bertanggung jawab kalau kerjaanku besok berantakan. Handphoneku berbunyi lagi. Kali ini nyaris membangunkan seseorang yang dari tadi mendengkur di sebelahku. Aku mematikan ringtone Hpku dan melirik sebentar ke arah dengkuran itu. Aku kesal tiap malam mendengar dengkurannya. Kali ini lebih kesal lagi karna kusadari, laki-laki ini cuma bisa mendengkur, sisanya, menganggur tiga perempat hari. Kesal tak guna, lebih baik aku lekas membalas SMS Bino. Oh Bino.

END.
Sepatu Kaca Punya Siapa © 2008 | Coded by Randomness | Illustration by Wai | Design by betterinpink!