By: Ghea Lisanova
Tanyanya. Atau sekedar meledek seusai mendengar jawaban dari penutup introgasinya akan hidupku.
“World is fine. This is us that wrong”
"Yeah, you and me are wrong, which makes the world seems so wrong”
“Hahaha. Emang apa salahnya sih having a first kiss sama sepupu sendiri?” Tanyaku, pada setidaknya seratus orang yang pernah memperdebatkan hal yang sama. Dan sekarang Bino. Cowok campuran Padang-Inggris yang baru ku kenal sejam lalu di Bar dekat apartemenku. Wajahnya diselimuti rasa penasaran yang menggelitik. Aku maklum, Bino mulai kecewa karena semua tebakannya salah. Mulai dari pekerjaanku, hobbyku, musik kesukaanku, tak ada satupun yang bisa ia terjemahkan pakai analisa physical appearance.
“Ngga ada yang salah kok. Cuma ya, sial aja semua tebakan aku salah! I thought your first kiss would be Homecoming King from your high school.”
“Sepupuku emang Homecoming King, kok. Dia orang paling populer di SMAnya. Tapi ya, waktu kita ciuman itu pas kita masih SD. Lagi sama-sama penasaran.” Jelasku.
“Oh, God! That wasn't counted as a first kiss. If that is, my first kiss would be my mother.” Katanya setengah kesal. Aku puas tertawa. “So you are a nice girl, with a boring job as a head of company in financial stuff who loves playing PSP at you spare time, listening to Rolling Stones and giving that lips virginity to your cousin.” Bino merangkum semua pembicaraan kami selama satu jam lebih ini. Kerut di dahinya menggambarkan jelas rasa penasaran yang semakin jadi. “Buatku kamu itu aktris Broadway yang pandai acting dan lagi tipu aku di sini.”
“Hahaha. Nggak lah! Ngga ada untungnya tipu kamu.” Dalam jeda beberapa detik, kami menenggak Bacardi dari gelas yang cukup lama kami cuekin. Aku melirik ke handphoneku, melihat angka 11.23 di situ. Biasanya aku sudah lari terbirit-birit mengejar jam tidur yang cuma bisa kudapat 6 jam. Damn you, kemacetan ibu kota! Tapi aku masih kerasan di sini, duduk berdampingan dengan orang asing uang sudah instan kupercayai seperempat perjalanan hidupku.
“Sekarang giliran aku deh introgasi kamu.”
“OK. But let's play a game. Kamu boleh tanya aku tapi kamu jawab sendiri. I'll buy you a drink for every question you answer right.”
“What? You wanna make me drunk? It is too easy to guess who and what you are. Kalau aku jawab sepuluh pertanyaan, sepuluh gelas bakal bikin kerjaan aku berantakan besok!” Aku menyergah.
“Come on try me! Don't be such a loser. Lagipula aku gak segampang itu ditebak.”
“OK. You ask for this.” Aku menghela nafas cukup lama dan dalam sambil berpikir pertanyaan yang sulit ku jawab sendiri. Yang aku tahu dia adalah seorang penulis skenario di salah satu PH Singapura, itupun dia yang cerita sendiri. Di Jakarta dia sedang observasi set untuk projek film terbarunya yang entah bercerita tentang apa, dia pun belum tahu. Dia bisa bicara bahasa karena masih lumayan sering pulang ke Padang untuk menjenguk ibunya yang sudah ditinggal cerai ayahnya yang kini menetap di UK. Haruskah aku bertanya apakah dia salah satu perwakilan dari anak broken home yang terlalu mencintai kebebasan? Terlalu jelas! Aku bisa menjawabnya sendiri.
“So, you are a faithful guy, that must be wrong!” Tebakku. Yang ditanya malah tertawa terpingkal-pingkal.
“Hahaha. That is true! A very faithful one. Buy you a Martini for this!”
“Hei, I have a wrong answer. No treat for this! I told you that you're not a faithful one.”
“Ah, right! Sorry, I'm too excited. Tapi aku bener orang yang setia. Kalau aku udah sama satu orang, aku sama dia terus sampai dia yang tinggalin aku.” Terangnya.
“But you don't look like that one.”
"I look like a very playful gigolo, right? But I can guarantee that I am so faithful. Keluargaku broken karena daddy ga setia sama Mommy. I really hate him, so I will hate myself once I am like him."
" wow, so you're now single that must be true."
"Yup! gampang banget. Tapi gak apa-apa, aku beliin kamu martini." Bino berpaling pada seorang bartender di situ untuk memesan dua gelas martini.
"Kamu bilang kamu setia. Kalau kamu gak single, kamu gak akan di sini minum sama orang asing. Either you cuddling with your girlfriend at home or skipe-ing, if your girlfriend is miles away."
"That's right, Baby! Cheers!" Bino mengangkat dua gelas martini, satunya ia condongkan padaku. Aku lekas meraih dan gelas-gelas kami beradu. "cling"
Dari speaker bar itu, terdengar samar-samar lagu kesukaanku, You Can't Always Get What You Want dari Rolling Stones. Pundak dan kepalaku sontak menari-nari. Liriknya terkomat-kamit pelan dibibirku. Bino tak mau kalah bergoyang, dan nyanyiannya lebih keras dari yang kupunya. Kamipun berkolaborasi. Dua alien di sebuah planet bernama bumi.
"You can't always get what you want... But if you try sometimes... well you might find..." kami bersenandung sama keras. "you get what you need!" Kami impas gila.
* * *
What's wrong with the world? Or what's wrong with me? Sudah jam 3 pagi bukannya tidur malah asik texting dengan Binosca Johnson, pria indo-bule berperawakan tinggi menjulang bak menantang langit. Aku masih hapal diantara rambut brunette gondrongnya yang membelah dahi, ada sepasang mata biru yang terus berkeliaran mencari-cari sebuah rahasia di balik mataku. Aku pun hapal berapa gelas minuman yang kudapat dari hasil taruhan kami. Lima. Selebihnya tak bisa ku tebak bahkan jauh dari ekspektasi.
"I used to not believe in marriage. Buat aku marriage seperti jual beli cinta yang butuh guarantee. Signing a piece of paper cuma untuk memastikan kita dan pasangan kita saling setia. Itu tandanya kita ga trust each other. Kalau udah sama-sama cinta dan perasaan itu kuat, gak perlu ada institusi yang mengikat." jabarnya. Aku tertegun takjub. Aku jatuh cinta pada cara ia memberikan sudut pandang. "Tapi pendirian aku yang seperti itu gak tahan lama sampai aku ketemu seseorang yang benar-benar aku cinta. Disitu aku dan dia justru memutuskan menikah, karna cinta. Dan tak bisa dijelaskan why we need marriage at that time. Aku baru tahu bahwa cinta yang terlalu kuat antara aku dan dia malah bikin kita butuh security, sama juga karna kita gak saling percaya. Till we didn't love each other anymore and we decided to divorce." Dia menghela nafas panjang. Aku membisu. Hening beberapa saat.
"She must be a very great woman” Ucapku sambil berdecak. Bino menyunggingkan senyum yang mempesona di ujung bibir merahnya.
“He, actually. He is a very great person.”
“Come again?” Aku kebingungan.
“You heard. I was having a gay marriage.” Katanya santai. Aku menganga sejadi-jadinya. Mataku membelalak lebar seperti mau loncat. Teori analisa physical appearanceku meleset. Pantas pribahasa 'don't judge a book by its cover' tak pernah basi. Jangan menilai Bino hanya dari penampilannya yang macho, pembawaannya yang cool, urat-urat tubuhnya yang sangat laki-laki. Di sisi lain dia membuatku terperanjat akan pengakuannya sebagai pria homosexual.“God, what's wrong with the world???”
“Hahaha.. What's wrong with you? I let you down? I am healed now. I love girls. Pernikahanku sama dia jadi memori petualangan hidupku yang sangat eksotis aja. Cukup.” Aku tak bisa berkata-kata. Lelaki itu.....
Handphoneku berbunyi. SMS dari Bino lagi.
Hey, I think I need you to help me observing Jakarta a lot more. So let me know when you're free. I'll kidnap you. :)
Aku lekas membalasnya sambil senyum-senyum sendiri.
It's not kidnapping when you tell me youre gonna kidnap me. Haha. OK. I'm glad when it happens.
Aku rasa, Bino tercipta dari ramuan ajaib, sembilan puluh persen alkohol dan sedikit Marijuana karna dia membuatku mabuk dan kecanduan. Dia harus bertanggung jawab kalau kerjaanku besok berantakan. Handphoneku berbunyi lagi. Kali ini nyaris membangunkan seseorang yang dari tadi mendengkur di sebelahku. Aku mematikan ringtone Hpku dan melirik sebentar ke arah dengkuran itu. Aku kesal tiap malam mendengar dengkurannya. Kali ini lebih kesal lagi karna kusadari, laki-laki ini cuma bisa mendengkur, sisanya, menganggur tiga perempat hari. Kesal tak guna, lebih baik aku lekas membalas SMS Bino. Oh Bino.
END.
Sabtu, 23 Februari 2013
Minggu, 07 Oktober 2012
Salah (?)
By: Ghea Lisanova
Dari sederet jadwal padat Demian hari ini, dia menyempatkan diri mampir ke toko DVD langganannya dekat kampus. Pesanan filmnya sudah datang, dan film itu cukup penting untuk segera diambil. Penjaga toko tampak sibuk melayani pelanggan yang lain. Demian tak bisa menunggu lagi, ada recording session yang sudah menantinya. Dia langsung mencari dimana DVD itu berada setelah penjaga toko menunjuk rak koleksi film drama.
Terlambat. Seseorang sudah mengambilnya. Kabar baiknya, orang itu belum begitu jauh dari Demian.
“Sorry, DVD yang lo pegang itu punya gue.” Demian berhasil menghentikan langkah seorang cewek dengan tinggi sedagunya, berbadan kurus jenis-jenis cewek yang tidak suka olah raga, dengan rambut sebahu. Cewek itu menoleh.
“Maksud lo? DVD ini?” tanyanya sambil mengangkat DVD berjudul ‘Sid and Nancy’ yang tengah ia genggam. Ada jeda beberapa detik sebelum Demian sanggup buka mulut untuk menjelaskan. Sesuatu seperti menyengat nadi Demian, keluar dari dua bola mata belo dan bibir tipis cewek itu. Cantik.
“Ya, itu udah gue pesen dari lama.” Mata Demian nampak bingung memilih antara melihat mata cewek itu atau DVD yang tengah ia pegang. Satu lagi yang mengusik Demian, cewek itu pasti cukup keren untuk menonton film drama biografi tokoh rock and roll jadul seperti itu.
“Lo belum bayar ini kan? Berarti, ini belum jadi milik lo.” Cewek itu ngeloyor pergi menuju cashier.
“Hei, please! That’s important for me. Lo bisa cari di toko lain.”
“Lo juga. Bisa cari di toko lain atau download dari internet.”
“Lo tau kan, itu original copy?”
“Yeah, that’s why I’m not giving it up to you!” Cewek itu ngotot.
“Maaf mbak, DVD ini udah dipesen sama mas Demian dari jauh hari. Mbak bisa pesen langsung ke saya dan bisa ambil minggu depan.” Seorang laki-lagi di meja cashier menengahi. Cewek itu kemudian diam. Tampak sedang mengumpulkan kerelaannya untuk memberikan DVD itu pada Demian. Lain dengan Demian. Dalam diam itu dia menikmati kecantikan cewek berbalutkan t-shirt ‘Ramones’, skinny jeans, dan boots dengan corak bendera inggris di bagian kepalanya.
“Ok, ambil deh!” diserahkannya DVD itu pada Demian. Sumringah, Demian segera mengambilnya. “Parah banget lo ambil ini dari gue!” Cewek itu pergi dengan marah. Namun Demian berhasil menahannya.
“Come on! Lo bisa pinjem ini dari gue kan? Kalo lo mau kasih tau nama lo dan nomor hp lo”.
***
Demian dan Denisa, inisial huruf yang sama itu kedengaran cocok untuk diukir di kartu undangan pernikahan, pikir Demian. Dia membolak-balik kartu undangan berwarna violet gold dengan ragu, seragu perasaannya akan keputusan yang telah ia buat, menikahi Camilla. Seharusnya, 5 tahun memacari Camilla sudah cukup membuang keraguannya untuk hidup bersama Camilla selama sisa umurnya. Namun, kehadiran Denisa membuat nama Camilla kemudian terasa kurang pas bersanding dengan namanya di kartu undangan itu.
“Gue baru kenal Denisa tiga hari, dan baru jalan sekali sama dia, tapi gue langsung ngerasa ‘click’. Tiba-tiba hati gue bilang kalau dia itu soulmate yang selama ini gue cari.” Ujar Demian pada Leo salah satu teman satu band yang paling dekat dengannya.
“Jangan buru-buru ambil kesimpulan. Man. Mungkin lo ngerasa butuh selingan aja gara-gara lo panik karna bentar lagi lo kawin sama Camilla.”
“Gue rasa nggak gitu. Denisa kayaknya sengaja dipertemukan sama gue buat jadi petunjuk kalo Camilla bukan orang yang tepat.” Leo diam. Tak berkomentar. “Gue bela-belain cari DVDnya ‘Sid and Nancy’ buat gue kasih liat ke Camilla gimana rock n’ roll nunjukin sisi romanticnya. Yang ditunggu-tungguin malah bilang ‘ini kisah cinta terbodoh yang pernah aku liat’. Beda sama Denisa. Dia antusias banget dan malah langsung maen gitar sambil nyanyi lagu-lagunya sex pistols. Belum lagi pengetahuannya sama musik-musik tahun 80an. Gue banget kan? Gue kayak ngeliat diri gue di Denisa.” Jelas Demian.
“Sekali lagi gue bilangin ke lo, man. Jangan buru-buru. Lo inget-inget lagi gimana lo bisa jatuh cinta sama Camilla, sampe mutusin buat nikahin dia setelah lima tahun pacaran. Lo mau tinggalin cewek yang udah lama lo kenal demi cewek yang baru tiga hari masuk ke kehidupan lo?”
“Kadang, kata-kata mutiara lo ganggu gue banget loh, man!” Demian melempar kartu undangan pernikahannya ke tubuh Leo, kemudian ngeloyor pergi. v ***
Galau itu semakin jadi saat semakin lama ia merasa nyaman berada di dekat Denisa. Belum pernah ia merasa secocok ini dengan cewek manapun termasuk Camilla. Segala yang ada pada cewek itu membuat tujuh puluh persen pilihan Demian mengarah padanya. Cukup satu pertanda lagi, genap sepenuh hati Demian siap batalkan pernikahannya dengan Camilla. Itu sikap. Karena menurutnya, terlambat itu tidak perlu menunggu sampai akhir, sampai dipelaminan baru dibatalkan. Secepat mungkin dia harus seratus persen yakin.
“Gue suka deh kalo lo lagi nyanyi sambil maen gitar gitu.” Demian memotong nyanyian Denisa di tengah-tengah lagu Don’t Cry dari Guns N’ Roses. “Lo seharusnya masuk ke studio recording jauh sebelum gue”
“Hahaha.. sempet loh gue dan lagu-lagu gue mau dibeli sama perusahaan major label. Tapi buat gue, musik itu nggak bisa dibeli. Kalo orang pengen menikmati, gue bisa bagi dengan gratis kok.” Jelas Denisa
“Wow! Cool!.” Demian berseru kagum “Kira-kira ada ga salah satu dari lagu ciptaan lo yang ngegambarin gue sama lo.” Demian memancing klu. Dia tak sabar menunggu.
“Ada. Mau gue nyanyiin?” Jawab Denisa tanpa ragu.
“Pleasure!”
Denisa mulai memainkan intro lagu yang begitu cantik. Wajahnya ceria merayakan bahagia. Yang dinyanyikan tertegun menyimak bait kata-kata indah keluar dari bibir mungil Denisa, seperti puisi-puisi cinta mahakarya sang pujangga. Lagu mengalun begitu mesra, tak banyak makna yang bisa Demian tangkap kecuali perasaan cinta. Terutama lirik “I’d never understand love if you didn’t come. Your existence explains the whole love that I need to know.” Seratus persen. Kini Demian sangat yakin akan keputusannya meninggalkan Camilla untuk Denisa. Cewek itu bikin Demian mabuk, mabuk cinta. Sejurus kemudian, ciuman hangat ia landaskan di bibir mungil itu, meninggalkan suara-suara di bumi, melayang ke angkasa.
***
Sore di café ini, puluhan kalimat yang Demian ungkapkan sama sekali tak menjelaskan apa-apa. Berbelit. Tapi Camilla tahu, mimik wajah itu menerjemahkan keraguan yang selama ini kekasihnya pendam. Camilla cukup mengerti bahwa Demian tengah berusaha menjelaskan perasaannya atas pernikahan mereka yang tidak ia yakini. Camilla sangat mengerti. Maka, dalam beberapa helaan nafas Demian saat bercerita, Camilla selalu tersenyum.
“Kamu punya kesetiaan yang hebat, Dem. Itu kenapa aku nggak perlu lama-lama liat kamu berlutut depan aku buat ngelamar aku, karna jawaban ‘ya’ udah kupersiapin dari lama.” Mendengar ucapan Camilla, Demian tercengang. Gerakan badannya canggung. “Lima tahun, saat cowok-cowok lain jalan-jalan sana sini dengan cewek yang beda-beda, kamu cuma jalan sama aku. Aku terharu akan hal itu. Kamu setia itu udah bikin aku merasa harus ngebalas kamu dengan kesetiaan yang sama bahkan lebih. Tapi setia aja nggak cukup karna kalau kita ngga yakin sama hubungan ini, setia jadi sia-sia.” Demian membisu. “Semua orang punya hak buat memilih. Termasuk memilih pasangan hidup yang dirasa sepadan. Aku pilih kamu. Dan itu ngga cukup kalo kamu nggak milih aku juga.”
“Hon…..” Demian berusaha memotong.
“Denger, Dem. Aku udah tahu tentang Denisa. Tentang segala kelebihannya yang nggak aku punya. Mungkin kamu bener, dia soulmate kamu, itu yang kamu yakini. Tapi perlu kamu tahu, beberapa minggu terakhir ini aku ketemu seseorang yang menurutku lebih baik dari kamu. Namanya , Hans. Arsitek. Dia suka desain, sama kayak aku.” Camilla mengambil nafas. Sambil mengamati reaksi Demian yang cukup kaget mendengar apa yang Camilla ceritakan. “Semua yang aku obrolin sama dia nyambung ketimbang ngobrolin music rock tua kesukaan kamu. Dalam waktu singkat aja Hans ngerti aku dari A sampe Z ketimbang kamu yang baru bisa ngerti aku setelah lima tahun kita pacaran. Perasaan aku sama kayak kamu. Rasanya Hans terlambat datang. Aku ragu. Sebanding sama ragunya kamu. Tapi akhirnya aku sadar bukan Hans yang terlambat datang, aku yang terlambat sadar bahwa Hans sengaja masuk untuk menguji keyakinan aku sebesar apa ke kamu. Dan ngeliat Hans, aku mencari-cari apa yang dia nggak punya dan cuma ada di kamu. Emang ngga lebih baik, tapi aku nyaman dengan itu.” Café ini cukup ramai, tapi Camilla masih bisa mendengarkan rintihan Demian dengan cukup jelas. Demian menangis. Camilla tak pernah melihat ia begitu sedih sebelumnya.
“Aku ngga bisa pilih yang lebih baik karna aku udah terbiasa sama kamu. Aku harap kamu juga ngelakuin hal yang sama tapi kamu ngga. Yah, aku kecewa. But maybe, this is the best, for you for us.” Camilla melepas cincin yang sudah tiga bulan melingkar di jari manisnya lalu menyerahkan itu pada Demian. “This five years was too beautiful to be true, and I’ll never forget.” Camilla beranjak pergi dengan ketegaran luar biasa yang tak pernah Demian bayangkan sebelumnya. Tubuh Demian kaku, seperti mati rasa. Dia tidak tahu, apakah organ tubuhnya masih bekerja dengan benar. Dia merasa seluruh aliran darahnya berhenti pada saat itu. Demian terus menyaksikan kepergian Camilla. Rambut hitam panjang dan punggung itu akan selalu ia ingat. Dia amat tahu, hatinya hancur.
***
Sakit memang sakit. Namun Demian tidak mau jadi cowok plin plan untuk merubah pilihannya lagi. Dia sudah sangat bodoh mengecewakan Camilla, dan dia tidak akan mengecewakan Denisa. Di perjalanan pulang, tiga perempat pikirannya masih teruju pada kejadian di café barusan, namun satu perempatnya lagi ada pada Camilla. Dia harus meneleponnya.
“Halo, Nis. Dimana?.... Hah? Lagi apa?...... Oh, Jemput adik kamu?..... Hah? Anak kamu? Becanda kan? Hahahah…… Hah?” Demian tercenung. “Jadi… kamu udah punya anak?..... Serius?..... Oh.. ngga apa-apa. Yaudah. Oke nanti kutelpon lagi” Demian memutus telepon itu. Tubuh Demian kaku, seperti mati rasa. Yang dia amat tahu, hatinya semakin hancur.
Ini salah (?)
THE END.
Dari sederet jadwal padat Demian hari ini, dia menyempatkan diri mampir ke toko DVD langganannya dekat kampus. Pesanan filmnya sudah datang, dan film itu cukup penting untuk segera diambil. Penjaga toko tampak sibuk melayani pelanggan yang lain. Demian tak bisa menunggu lagi, ada recording session yang sudah menantinya. Dia langsung mencari dimana DVD itu berada setelah penjaga toko menunjuk rak koleksi film drama.
Terlambat. Seseorang sudah mengambilnya. Kabar baiknya, orang itu belum begitu jauh dari Demian.
“Sorry, DVD yang lo pegang itu punya gue.” Demian berhasil menghentikan langkah seorang cewek dengan tinggi sedagunya, berbadan kurus jenis-jenis cewek yang tidak suka olah raga, dengan rambut sebahu. Cewek itu menoleh.
“Maksud lo? DVD ini?” tanyanya sambil mengangkat DVD berjudul ‘Sid and Nancy’ yang tengah ia genggam. Ada jeda beberapa detik sebelum Demian sanggup buka mulut untuk menjelaskan. Sesuatu seperti menyengat nadi Demian, keluar dari dua bola mata belo dan bibir tipis cewek itu. Cantik.
“Ya, itu udah gue pesen dari lama.” Mata Demian nampak bingung memilih antara melihat mata cewek itu atau DVD yang tengah ia pegang. Satu lagi yang mengusik Demian, cewek itu pasti cukup keren untuk menonton film drama biografi tokoh rock and roll jadul seperti itu.
“Lo belum bayar ini kan? Berarti, ini belum jadi milik lo.” Cewek itu ngeloyor pergi menuju cashier.
“Hei, please! That’s important for me. Lo bisa cari di toko lain.”
“Lo juga. Bisa cari di toko lain atau download dari internet.”
“Lo tau kan, itu original copy?”
“Yeah, that’s why I’m not giving it up to you!” Cewek itu ngotot.
“Maaf mbak, DVD ini udah dipesen sama mas Demian dari jauh hari. Mbak bisa pesen langsung ke saya dan bisa ambil minggu depan.” Seorang laki-lagi di meja cashier menengahi. Cewek itu kemudian diam. Tampak sedang mengumpulkan kerelaannya untuk memberikan DVD itu pada Demian. Lain dengan Demian. Dalam diam itu dia menikmati kecantikan cewek berbalutkan t-shirt ‘Ramones’, skinny jeans, dan boots dengan corak bendera inggris di bagian kepalanya.
“Ok, ambil deh!” diserahkannya DVD itu pada Demian. Sumringah, Demian segera mengambilnya. “Parah banget lo ambil ini dari gue!” Cewek itu pergi dengan marah. Namun Demian berhasil menahannya.
“Come on! Lo bisa pinjem ini dari gue kan? Kalo lo mau kasih tau nama lo dan nomor hp lo”.
***
Demian dan Denisa, inisial huruf yang sama itu kedengaran cocok untuk diukir di kartu undangan pernikahan, pikir Demian. Dia membolak-balik kartu undangan berwarna violet gold dengan ragu, seragu perasaannya akan keputusan yang telah ia buat, menikahi Camilla. Seharusnya, 5 tahun memacari Camilla sudah cukup membuang keraguannya untuk hidup bersama Camilla selama sisa umurnya. Namun, kehadiran Denisa membuat nama Camilla kemudian terasa kurang pas bersanding dengan namanya di kartu undangan itu.
“Gue baru kenal Denisa tiga hari, dan baru jalan sekali sama dia, tapi gue langsung ngerasa ‘click’. Tiba-tiba hati gue bilang kalau dia itu soulmate yang selama ini gue cari.” Ujar Demian pada Leo salah satu teman satu band yang paling dekat dengannya.
“Jangan buru-buru ambil kesimpulan. Man. Mungkin lo ngerasa butuh selingan aja gara-gara lo panik karna bentar lagi lo kawin sama Camilla.”
“Gue rasa nggak gitu. Denisa kayaknya sengaja dipertemukan sama gue buat jadi petunjuk kalo Camilla bukan orang yang tepat.” Leo diam. Tak berkomentar. “Gue bela-belain cari DVDnya ‘Sid and Nancy’ buat gue kasih liat ke Camilla gimana rock n’ roll nunjukin sisi romanticnya. Yang ditunggu-tungguin malah bilang ‘ini kisah cinta terbodoh yang pernah aku liat’. Beda sama Denisa. Dia antusias banget dan malah langsung maen gitar sambil nyanyi lagu-lagunya sex pistols. Belum lagi pengetahuannya sama musik-musik tahun 80an. Gue banget kan? Gue kayak ngeliat diri gue di Denisa.” Jelas Demian.
“Sekali lagi gue bilangin ke lo, man. Jangan buru-buru. Lo inget-inget lagi gimana lo bisa jatuh cinta sama Camilla, sampe mutusin buat nikahin dia setelah lima tahun pacaran. Lo mau tinggalin cewek yang udah lama lo kenal demi cewek yang baru tiga hari masuk ke kehidupan lo?”
“Kadang, kata-kata mutiara lo ganggu gue banget loh, man!” Demian melempar kartu undangan pernikahannya ke tubuh Leo, kemudian ngeloyor pergi. v ***
Galau itu semakin jadi saat semakin lama ia merasa nyaman berada di dekat Denisa. Belum pernah ia merasa secocok ini dengan cewek manapun termasuk Camilla. Segala yang ada pada cewek itu membuat tujuh puluh persen pilihan Demian mengarah padanya. Cukup satu pertanda lagi, genap sepenuh hati Demian siap batalkan pernikahannya dengan Camilla. Itu sikap. Karena menurutnya, terlambat itu tidak perlu menunggu sampai akhir, sampai dipelaminan baru dibatalkan. Secepat mungkin dia harus seratus persen yakin.
“Gue suka deh kalo lo lagi nyanyi sambil maen gitar gitu.” Demian memotong nyanyian Denisa di tengah-tengah lagu Don’t Cry dari Guns N’ Roses. “Lo seharusnya masuk ke studio recording jauh sebelum gue”
“Hahaha.. sempet loh gue dan lagu-lagu gue mau dibeli sama perusahaan major label. Tapi buat gue, musik itu nggak bisa dibeli. Kalo orang pengen menikmati, gue bisa bagi dengan gratis kok.” Jelas Denisa
“Wow! Cool!.” Demian berseru kagum “Kira-kira ada ga salah satu dari lagu ciptaan lo yang ngegambarin gue sama lo.” Demian memancing klu. Dia tak sabar menunggu.
“Ada. Mau gue nyanyiin?” Jawab Denisa tanpa ragu.
“Pleasure!”
Denisa mulai memainkan intro lagu yang begitu cantik. Wajahnya ceria merayakan bahagia. Yang dinyanyikan tertegun menyimak bait kata-kata indah keluar dari bibir mungil Denisa, seperti puisi-puisi cinta mahakarya sang pujangga. Lagu mengalun begitu mesra, tak banyak makna yang bisa Demian tangkap kecuali perasaan cinta. Terutama lirik “I’d never understand love if you didn’t come. Your existence explains the whole love that I need to know.” Seratus persen. Kini Demian sangat yakin akan keputusannya meninggalkan Camilla untuk Denisa. Cewek itu bikin Demian mabuk, mabuk cinta. Sejurus kemudian, ciuman hangat ia landaskan di bibir mungil itu, meninggalkan suara-suara di bumi, melayang ke angkasa.
***
Sore di café ini, puluhan kalimat yang Demian ungkapkan sama sekali tak menjelaskan apa-apa. Berbelit. Tapi Camilla tahu, mimik wajah itu menerjemahkan keraguan yang selama ini kekasihnya pendam. Camilla cukup mengerti bahwa Demian tengah berusaha menjelaskan perasaannya atas pernikahan mereka yang tidak ia yakini. Camilla sangat mengerti. Maka, dalam beberapa helaan nafas Demian saat bercerita, Camilla selalu tersenyum.
“Kamu punya kesetiaan yang hebat, Dem. Itu kenapa aku nggak perlu lama-lama liat kamu berlutut depan aku buat ngelamar aku, karna jawaban ‘ya’ udah kupersiapin dari lama.” Mendengar ucapan Camilla, Demian tercengang. Gerakan badannya canggung. “Lima tahun, saat cowok-cowok lain jalan-jalan sana sini dengan cewek yang beda-beda, kamu cuma jalan sama aku. Aku terharu akan hal itu. Kamu setia itu udah bikin aku merasa harus ngebalas kamu dengan kesetiaan yang sama bahkan lebih. Tapi setia aja nggak cukup karna kalau kita ngga yakin sama hubungan ini, setia jadi sia-sia.” Demian membisu. “Semua orang punya hak buat memilih. Termasuk memilih pasangan hidup yang dirasa sepadan. Aku pilih kamu. Dan itu ngga cukup kalo kamu nggak milih aku juga.”
“Hon…..” Demian berusaha memotong.
“Denger, Dem. Aku udah tahu tentang Denisa. Tentang segala kelebihannya yang nggak aku punya. Mungkin kamu bener, dia soulmate kamu, itu yang kamu yakini. Tapi perlu kamu tahu, beberapa minggu terakhir ini aku ketemu seseorang yang menurutku lebih baik dari kamu. Namanya , Hans. Arsitek. Dia suka desain, sama kayak aku.” Camilla mengambil nafas. Sambil mengamati reaksi Demian yang cukup kaget mendengar apa yang Camilla ceritakan. “Semua yang aku obrolin sama dia nyambung ketimbang ngobrolin music rock tua kesukaan kamu. Dalam waktu singkat aja Hans ngerti aku dari A sampe Z ketimbang kamu yang baru bisa ngerti aku setelah lima tahun kita pacaran. Perasaan aku sama kayak kamu. Rasanya Hans terlambat datang. Aku ragu. Sebanding sama ragunya kamu. Tapi akhirnya aku sadar bukan Hans yang terlambat datang, aku yang terlambat sadar bahwa Hans sengaja masuk untuk menguji keyakinan aku sebesar apa ke kamu. Dan ngeliat Hans, aku mencari-cari apa yang dia nggak punya dan cuma ada di kamu. Emang ngga lebih baik, tapi aku nyaman dengan itu.” Café ini cukup ramai, tapi Camilla masih bisa mendengarkan rintihan Demian dengan cukup jelas. Demian menangis. Camilla tak pernah melihat ia begitu sedih sebelumnya.
“Aku ngga bisa pilih yang lebih baik karna aku udah terbiasa sama kamu. Aku harap kamu juga ngelakuin hal yang sama tapi kamu ngga. Yah, aku kecewa. But maybe, this is the best, for you for us.” Camilla melepas cincin yang sudah tiga bulan melingkar di jari manisnya lalu menyerahkan itu pada Demian. “This five years was too beautiful to be true, and I’ll never forget.” Camilla beranjak pergi dengan ketegaran luar biasa yang tak pernah Demian bayangkan sebelumnya. Tubuh Demian kaku, seperti mati rasa. Dia tidak tahu, apakah organ tubuhnya masih bekerja dengan benar. Dia merasa seluruh aliran darahnya berhenti pada saat itu. Demian terus menyaksikan kepergian Camilla. Rambut hitam panjang dan punggung itu akan selalu ia ingat. Dia amat tahu, hatinya hancur.
***
Sakit memang sakit. Namun Demian tidak mau jadi cowok plin plan untuk merubah pilihannya lagi. Dia sudah sangat bodoh mengecewakan Camilla, dan dia tidak akan mengecewakan Denisa. Di perjalanan pulang, tiga perempat pikirannya masih teruju pada kejadian di café barusan, namun satu perempatnya lagi ada pada Camilla. Dia harus meneleponnya.
“Halo, Nis. Dimana?.... Hah? Lagi apa?...... Oh, Jemput adik kamu?..... Hah? Anak kamu? Becanda kan? Hahahah…… Hah?” Demian tercenung. “Jadi… kamu udah punya anak?..... Serius?..... Oh.. ngga apa-apa. Yaudah. Oke nanti kutelpon lagi” Demian memutus telepon itu. Tubuh Demian kaku, seperti mati rasa. Yang dia amat tahu, hatinya semakin hancur.
Ini salah (?)
THE END.
Senin, 01 Februari 2010
Busuknya Busuk
Ya tuhan, cantik sekali wanita itu. Keluar dari sebuah butik pakaian branded, dengan membawa beberapa paper bag di tangan kirinya dan menuntun tangan seorang gadis kecil dengan klima jari tangan kanannya. Kurasa umurnya sama denganku, kira-kira 30 tahunan, dan bocah yang tengah di tuntunnya itu mungkin 5 tahunan. Ah, baju yang dikenakannya membuatku iri! Sangat cocok membelit badannya yang ramping. Sementara tubuh gendutku hanya berbalutkan kaos gombrang dan jeans aneh ini. Tak bermerk pula. Aku yakin baju yg dikenakan wanita itu punya harga yang sebanding dengan setengah gaji suamiku. Suamiku yang hanya seorang pekerja tata usaha di sebuah universitas BUMN.
Eh, sebentar. Ku rasa aku sangat mengenali tai lalat yang berada di sebelah kanan hidung mancungnya, tepat di bawah mata bulat indahnya. Apa mungkin dia, Tania??
***
Dwiki adalah seorang pria termanis, tertampan dan terpopuler di kelas kami. Mungkin sudah sampai tarap kampus. Dia yg paling menonjol di kampus kami. Hampir lupa. Dia juga sangat kaya, tentu saja hal itu yang paling membuat cewek-cewek tertarik. Seperti biasa, tokoh seperti itu pasti dijodohkan dengan yang sederajat lagi oleh hukum alam. Makanya, pada saat itu Dwiki dan Tania adalah pasangan paling masuk akal. Kelengkapan bertemu dengan kesempurnaan. Tak jarang membuat orang lain cemburu. Kabarnya mereka sudah bertunangan ketika ayah Tania diponis kanker otak akut. Harusnya mereka segera menikah karna mungkin saja semakin ditunda semakin ayah Tania tak bisa mengambil perannya sebagai wali. Namun ayah Tania tak setuju, dia ingin menunggu Tania dan Dwiki lulus kuliah dulu.
Ku ceritakan lah dulu sifat jalang yang dimiliki oleh bnyak wanita, yaitu selalu ingin memiliki pria yang sudah dimiliki wanita lain. Semakin terikat si pria semakin wanita jalang ingin merebutnya. Termasuk aku, Harumia Kumala. Aku sangat tertarik pada Dwiki, selain karna kesempurnaannya, juga karena dia telah terikat oleh Tania. Tania, Tania. Dia sangat cantik, tak cacat sedikitpun, tapi aku selalu yakin aku bisa mendapatkan kekasihnya.
Tuhan memang maha baik, selalu memberikan hamba-Nya celah, biarpun kecil tapi bisa menjadi sangat besar jika manusia pandai memanfaatkannya. Pada suatu malam, Ia berikan aku kesempatan untuk mengenal Dwiki lebih dari sekedar teman sekelas. Malam itu, di sebuah café and lounge saat Gerry—teman sekelas kami—merayakan ulang tahunnya di sana, aku berusaha menawarkan rokokku pada Dwiki. Dia menyambut dengan hangat. Tak pernah dia sehangat itu padaku jika ada Tania. Syukurlah Tania dan tali pengikatnya tak ada. Ku dengar dia harus selalu menjaga ayahnya sepanjang malam karena makin hari, keadaan sang ayah makin memburuk. Ku manfaatkan saja celah itu untuk sedikit bermain dengan gebuan obsesiku. Dari sebatang rokok dan kepulan asapnya, kami berdua turun ke dance floor, ajojing sampai pegal, minum bir sampai mabuk, dan saat kelelahan ku ajak dia beristirahat di sebuah kamar hotel yang ku pesan
Takjubnya tak ada penolakan. Kuperhatikan Dwiki asyik-asyik saja dengan kebinalanku. Seperti yang sudah kuperkirakan, laki-laki bukan lah tempat dimana kesetiaan bisa tumbuh dengan baik Bukan laki-laki kalau dia setia. Bukan laki-laki kalau dia tak gampang tergoda. Mungkin karna selama ini tali yang Tania dan keluarganya ikatan terlalu kencang, maka ia tak bisa bergerak. Kini saat mereka lengah, Dwiki menjadi seorang lelaki sesungguhnya. Seorang penghianat yang dengan asyiknya bersetubuh denganku di ranjang. Tak tahu berapa lama kami menikmatinya, yang jelas kami tertidur sebentar lalu tiba-tiba saja pagi datang dan matahari sudah menyoroti tubuh kami yang terbaring tak berbusana. Handphone Dwiki terus bergetar, rasanya bunyi itu sudah ku dengar dari beberapa jam yang lalu. Mungkin Tania. Sekalian saja kuangkat, biar peranku sebagai tokoh antagonis sukses berat. Apa salahnya merasa menang dibalik sebuah kebusukan? Kurasa itu syah-syah saja, selama aku merasa bahagia. Tania kaget bukan main. Saat itu mungkin dia berharap dia salah memijit nomor telepon. Tapi kenyataanya, itu memang nomor Dwiki, kekasihnya yang sedari malam terus ia hubungi untuk mengabari berita kematian ayahnya. Ups… Saat itu aku tak tahu harus bersikap seperti orang yang menang, atau orang yang terlampau sukses.
* * *
“Masih ingat saya??” Kulempar pertanyaan itu, seakan-akan aku tak pantas untuk menjadi orang yang tak mudah terlupakan.
“Hmmm.. sebentar. Saya lupa-lupa ingat. Memang anda siapa?”. Tania balik bertanya. Sialan! Aku punya peran penting dalam kehancuran hidupnya, masa tak ingat?
“Harum. Universitas Ramada.”Jawabku. Kalau dia tak ingat aku, berarti dia sangat pandai mengubur luka masa lalu.
“Harum… Harumnya… Dwiki?” Bingo!!! Akhirnya dia ingat juga. Dengan jalan yang cukup tragis untuk mengingatku melalui Dwiki, suamiku. Kini rasa kemenangan yang pernah kupunya dulu musnah seketika. Dulu membuat Dwiki berada di sisiku untuk mengalahkan Tania memang sangat membanggakan. Namun kini melihat sosok Tania yang nampak jauh jauh lebih sukses dariku membuatku kehilangan masa keemasan itu. Lihatlah tubuh gendut ini! Lihatlah kaos belel ini! Lihatlah keresek belanjaan yang kubawa ini! Jauh dari kesukseskan yang ku impikan dulu saat berhasil merebut Dwiki dari Tania. Sekarang Tania, yang cantik, masih cantik dan selalu cantik mungkin puas membuat matanya mengolok-olok penampilanku. Biarlah! Yang penting kita satu-sama. Dan aku dulu lebih bisa menyakiti hatinya dibanding kesuksesannya sekarang yang membuat hidupku cemburu.
Dia akhirnya mengajakku makan siang di sebuah restoran yang tak pernah ku tahu isinya seperti apa saking tak mampunya aku. Makanan yang dia pesankan sama sekali tak familiar di telingaku, dan perutku. Menandakan bahwa kami hidup dalam dua kehidupan dan strata sosial yang berbeda. Tania menceritakan kehidupannya selama tak bertemu dengan aku dan Dwiki. Yang kutangkap, dia hanya pamer harta. Suaminya seorang pengusaha berlian. Lengkap dengan 7 perusahaan makanan dan 3 perusahaan telekomunikasi yang semuanya terjamin sukses. Anak Tania sangat cantik, seperti ibunya. Kurasa ayahnya ikut ambil alih menyimpan gen kecantikan itu. Hatiku terus dibakar api cemburu. Masih bisakah dalam penampilan seperti ini aku merebut suaminya? Masih ampuhkah kebinalanku membuat pasangan Tania berhianat lalu meninggalkannya demi aku? Kurasa tidak. Kecuali hidup ini memang panggung komedi.
“Suamimu mana, Har?” Tania bertanya saat santapan kami mendekati detik-detik kepunahan.
“Masih kerja. Katanya mau jemput ke sini.” Habis kalimat itu ku ucapkan, suamiku muncul. Urat-urat wajahnya menganga saat melihat Tania, yang masih sangat dikenalinya. Kudapati mimik aneh di wajah suamiku yang sudah tak pernah ku temukan selama 6 tahun menikah dengannya. Mimik apa itu, suami bodoh!! Mimik menyesal telah menikahi istrinya yang buruk rupa saat melihat bekas calon istrinya yang sangat menawan??? Mimik menyesal telah meninggalkan bekas calon istrinya yang dulu ia hianati sampai membuat perpecahan keluarga mereka lalu memaksa Dwiki untuk tak diakui keluarganya lagi?? Mimik jatuh cinta kembali?? Mimik bodoh!! Kali ini kulihat jelas kekalahan di depanku. Saat kumerasa cemburu pada hidup Tania, saat suamiku menunjukan penyesalannya, dan di lain sisi mata Tania terus membelalakan olokan padaa hidup pasangan suami istri yang gagal. Bahkan kami tak memiliki anak.
Busuk usaha, busuk hasil. Busuk lah pertemuan kami dengan Tania. Seakan hidup ingin menunjukan semua kesalahan dalam peta riwayatku. Tania. Semua yang kau dapatkan memang masuk akal. Begitu juga yang aku dapatkan.
* * *
Eh, sebentar. Ku rasa aku sangat mengenali tai lalat yang berada di sebelah kanan hidung mancungnya, tepat di bawah mata bulat indahnya. Apa mungkin dia, Tania??
***
Dwiki adalah seorang pria termanis, tertampan dan terpopuler di kelas kami. Mungkin sudah sampai tarap kampus. Dia yg paling menonjol di kampus kami. Hampir lupa. Dia juga sangat kaya, tentu saja hal itu yang paling membuat cewek-cewek tertarik. Seperti biasa, tokoh seperti itu pasti dijodohkan dengan yang sederajat lagi oleh hukum alam. Makanya, pada saat itu Dwiki dan Tania adalah pasangan paling masuk akal. Kelengkapan bertemu dengan kesempurnaan. Tak jarang membuat orang lain cemburu. Kabarnya mereka sudah bertunangan ketika ayah Tania diponis kanker otak akut. Harusnya mereka segera menikah karna mungkin saja semakin ditunda semakin ayah Tania tak bisa mengambil perannya sebagai wali. Namun ayah Tania tak setuju, dia ingin menunggu Tania dan Dwiki lulus kuliah dulu.
Ku ceritakan lah dulu sifat jalang yang dimiliki oleh bnyak wanita, yaitu selalu ingin memiliki pria yang sudah dimiliki wanita lain. Semakin terikat si pria semakin wanita jalang ingin merebutnya. Termasuk aku, Harumia Kumala. Aku sangat tertarik pada Dwiki, selain karna kesempurnaannya, juga karena dia telah terikat oleh Tania. Tania, Tania. Dia sangat cantik, tak cacat sedikitpun, tapi aku selalu yakin aku bisa mendapatkan kekasihnya.
Tuhan memang maha baik, selalu memberikan hamba-Nya celah, biarpun kecil tapi bisa menjadi sangat besar jika manusia pandai memanfaatkannya. Pada suatu malam, Ia berikan aku kesempatan untuk mengenal Dwiki lebih dari sekedar teman sekelas. Malam itu, di sebuah café and lounge saat Gerry—teman sekelas kami—merayakan ulang tahunnya di sana, aku berusaha menawarkan rokokku pada Dwiki. Dia menyambut dengan hangat. Tak pernah dia sehangat itu padaku jika ada Tania. Syukurlah Tania dan tali pengikatnya tak ada. Ku dengar dia harus selalu menjaga ayahnya sepanjang malam karena makin hari, keadaan sang ayah makin memburuk. Ku manfaatkan saja celah itu untuk sedikit bermain dengan gebuan obsesiku. Dari sebatang rokok dan kepulan asapnya, kami berdua turun ke dance floor, ajojing sampai pegal, minum bir sampai mabuk, dan saat kelelahan ku ajak dia beristirahat di sebuah kamar hotel yang ku pesan
Takjubnya tak ada penolakan. Kuperhatikan Dwiki asyik-asyik saja dengan kebinalanku. Seperti yang sudah kuperkirakan, laki-laki bukan lah tempat dimana kesetiaan bisa tumbuh dengan baik Bukan laki-laki kalau dia setia. Bukan laki-laki kalau dia tak gampang tergoda. Mungkin karna selama ini tali yang Tania dan keluarganya ikatan terlalu kencang, maka ia tak bisa bergerak. Kini saat mereka lengah, Dwiki menjadi seorang lelaki sesungguhnya. Seorang penghianat yang dengan asyiknya bersetubuh denganku di ranjang. Tak tahu berapa lama kami menikmatinya, yang jelas kami tertidur sebentar lalu tiba-tiba saja pagi datang dan matahari sudah menyoroti tubuh kami yang terbaring tak berbusana. Handphone Dwiki terus bergetar, rasanya bunyi itu sudah ku dengar dari beberapa jam yang lalu. Mungkin Tania. Sekalian saja kuangkat, biar peranku sebagai tokoh antagonis sukses berat. Apa salahnya merasa menang dibalik sebuah kebusukan? Kurasa itu syah-syah saja, selama aku merasa bahagia. Tania kaget bukan main. Saat itu mungkin dia berharap dia salah memijit nomor telepon. Tapi kenyataanya, itu memang nomor Dwiki, kekasihnya yang sedari malam terus ia hubungi untuk mengabari berita kematian ayahnya. Ups… Saat itu aku tak tahu harus bersikap seperti orang yang menang, atau orang yang terlampau sukses.
* * *
“Masih ingat saya??” Kulempar pertanyaan itu, seakan-akan aku tak pantas untuk menjadi orang yang tak mudah terlupakan.
“Hmmm.. sebentar. Saya lupa-lupa ingat. Memang anda siapa?”. Tania balik bertanya. Sialan! Aku punya peran penting dalam kehancuran hidupnya, masa tak ingat?
“Harum. Universitas Ramada.”Jawabku. Kalau dia tak ingat aku, berarti dia sangat pandai mengubur luka masa lalu.
“Harum… Harumnya… Dwiki?” Bingo!!! Akhirnya dia ingat juga. Dengan jalan yang cukup tragis untuk mengingatku melalui Dwiki, suamiku. Kini rasa kemenangan yang pernah kupunya dulu musnah seketika. Dulu membuat Dwiki berada di sisiku untuk mengalahkan Tania memang sangat membanggakan. Namun kini melihat sosok Tania yang nampak jauh jauh lebih sukses dariku membuatku kehilangan masa keemasan itu. Lihatlah tubuh gendut ini! Lihatlah kaos belel ini! Lihatlah keresek belanjaan yang kubawa ini! Jauh dari kesukseskan yang ku impikan dulu saat berhasil merebut Dwiki dari Tania. Sekarang Tania, yang cantik, masih cantik dan selalu cantik mungkin puas membuat matanya mengolok-olok penampilanku. Biarlah! Yang penting kita satu-sama. Dan aku dulu lebih bisa menyakiti hatinya dibanding kesuksesannya sekarang yang membuat hidupku cemburu.
Dia akhirnya mengajakku makan siang di sebuah restoran yang tak pernah ku tahu isinya seperti apa saking tak mampunya aku. Makanan yang dia pesankan sama sekali tak familiar di telingaku, dan perutku. Menandakan bahwa kami hidup dalam dua kehidupan dan strata sosial yang berbeda. Tania menceritakan kehidupannya selama tak bertemu dengan aku dan Dwiki. Yang kutangkap, dia hanya pamer harta. Suaminya seorang pengusaha berlian. Lengkap dengan 7 perusahaan makanan dan 3 perusahaan telekomunikasi yang semuanya terjamin sukses. Anak Tania sangat cantik, seperti ibunya. Kurasa ayahnya ikut ambil alih menyimpan gen kecantikan itu. Hatiku terus dibakar api cemburu. Masih bisakah dalam penampilan seperti ini aku merebut suaminya? Masih ampuhkah kebinalanku membuat pasangan Tania berhianat lalu meninggalkannya demi aku? Kurasa tidak. Kecuali hidup ini memang panggung komedi.
“Suamimu mana, Har?” Tania bertanya saat santapan kami mendekati detik-detik kepunahan.
“Masih kerja. Katanya mau jemput ke sini.” Habis kalimat itu ku ucapkan, suamiku muncul. Urat-urat wajahnya menganga saat melihat Tania, yang masih sangat dikenalinya. Kudapati mimik aneh di wajah suamiku yang sudah tak pernah ku temukan selama 6 tahun menikah dengannya. Mimik apa itu, suami bodoh!! Mimik menyesal telah menikahi istrinya yang buruk rupa saat melihat bekas calon istrinya yang sangat menawan??? Mimik menyesal telah meninggalkan bekas calon istrinya yang dulu ia hianati sampai membuat perpecahan keluarga mereka lalu memaksa Dwiki untuk tak diakui keluarganya lagi?? Mimik jatuh cinta kembali?? Mimik bodoh!! Kali ini kulihat jelas kekalahan di depanku. Saat kumerasa cemburu pada hidup Tania, saat suamiku menunjukan penyesalannya, dan di lain sisi mata Tania terus membelalakan olokan padaa hidup pasangan suami istri yang gagal. Bahkan kami tak memiliki anak.
Busuk usaha, busuk hasil. Busuk lah pertemuan kami dengan Tania. Seakan hidup ingin menunjukan semua kesalahan dalam peta riwayatku. Tania. Semua yang kau dapatkan memang masuk akal. Begitu juga yang aku dapatkan.
* * *
Label:
competition
Jumat, 29 Januari 2010
Hamil
Wanita, wanita… sekeras apapun usahanya tak kan pernah berhasil merebut semua kesubjekan yang dimiliki pria. Memang, kalau dulu ada pepatah yang sangat populer bahwa ‘wanita itu dijajah pria’, kini sebagian kaum wanita sudah berhasil menjajah pria. Malah saat konstruksi sosial kita mengharuskan pria melamar wanita, sebagian adat dan tradisi justru menganut kebalikannya, pria dilamar wanita. Hidup ini kadang terasa sudah adil, ketika wanita juga bisa menjadi subjek dalam segala hal sebagai hak-haknya. Namun tidak dengan yang satu ini. Hamil. Tetap saja wanita itu dihamili, tak bisa menghamili. Itulah yang selalu membuat Kirana marah pada kodratnya. Mengutuk perlakuan Tuhan yang dirasanya sangat tak adil. Dia tengah hamil, kini menginjak usia tujuh bulan. Dan pria yang menghamilinya itu adalah bandot tua yang tengah menunggu gugatan cerainya dikabulkan pengadilan. "Bedebah! 2 bulan lalu bajingan itu masih mengusap-usap perutku, menyandarkan kepalanya, merapatkan sebelah telinganya seperti seorang bapak yang tak sabar menunggu kelahiran anak pertamanya! Gara-gara jalang itu, dia lupa bahwa seharusnya sekarang dia sudah mempersiapkan nama untuk anaknya!"
Sepasang kakinya menopang perjalanan Kirana yang sendirian dengan lapisan karet dari sandal teplek pembalut dampalnya. Kali ini langkahnya tak lagi berat oleh si jabang bayi yang menggelayut di perutnya yang kian hari kian membadut, melainkan oleh beban-beban perceraian yang tengah dirancang apik oleh suaminya. Ular jantan itu sangat pintar membuat gugatan cerainya masuk jadwal sidang. Nampaknya dia sudah tak kerasan berlama-lama dihantui Kirana dan si Jabang bayi yang nanti akan memanggilnya 'bapak'. Hari ini, kamis jam 10 pagi adalah hari pertama pengadilan dan aparatus didalamnya mencampuri urusan rumah tangganya. Kirana tak perlu membayar pengacara. Untuk apa? Keadilanpun sudah tak dipertontonkan lagi di tempat itu. Semuanya bermain dompet. Apalagi, Doni Karyadi sekarang adalah seorang pengusaha sukses, yang sebelumnya cuma pekerja biasa dan akhirnya berhasil dipromosikan sebagai manager.
Sendirian. Kirana hanya sendirian. Seakan cuma dirinya yang perduli dengan kegagalan hidupnya. Tak ada sandaran. Semuanya telah meninggalkan Kirana karena dulu Kirana sendiri yang memutuskan ikatan dengan keluarganya gara-gara menikah dengan lelaki pemabuk itu. Lalu nanti siapa yang akan membantunya menemukan celah untuk tetap bernafas? Masih ada Tuhan. Selalu ada Tuhan dan hadiah kecil yang dua bulan lagi akan segera turun ke dunia. Tanpa bapak? Yang benar saja!
Kirana menyeret langkah-langkah terakhirnya sebelum memasuki ruang sidang sambil berdialog dengan hatinya. Dia mencari-cari Tuhan barangkali tengah berada di hatinya lalu bisa memberikan sedikit belas kasihan-Nya berupa ketegaran seorang wanita. “Ternyata seperti ini toh ruang sidang yang sering aku liat di tv. Thank God. Berkat kasih sayang-Mu, akhirnya aku bisa berada di ruangan yang penuh dengan showbiz tipuan ini. Lihat kebohongan apa yang akan mereka tamparkan padaku! Aku tak sabar menunggu.” Selangkah lagi menduduki kursi panas itu, dia menengok kesana-kemari mencari batang hidung bajingan itu. Ternyata suaminya tidak datang. Hal ini tak usah lah dipertanyakan, karena dengan uangnya, dia bisa membuat mulut S.H-S.H itu menjadi mulutnya. Tak apa, lagi pula melihat wajahnya hanya akan membuat Kirana ingin memuntahkan isi perutnya ke wajah bajingan itu.
Sidang pertama itu berjalan dengan sangat lancar. Kirana tak menyulitkan proses persidangan. Semua pertanyaan dijawabnya dengan baik tanpa kebohongan. Tetap saja, karna uang kejujuran Kirana tak ada artinya lagi. Sudah menuntut pertanggungjawaban tetap saja gelagat pengkabulan gugatan cerai doni jelas nampak. Dengan syarat, Doni masih harus menafkahi Kirana sampai anaknya lahir, karna Kirana hidup sendirian. Tak ada yang menanggungnya, meskipun anak yang dikandung Kirana terbukti bukan anak kandung Doni. Ya, semuanya berjalan lancar, termasuk rasa sakit yang Doni rancang untuk wanita yang seharusnya tengah ia manja-manjakan itu. Masih terngiang jelas di benaknya saat mereka menanyai Kirana tentang status anak yang dikandungnya.
“Apa benar anak yang ada di kandungan saudari itu bukan anak saudara Doni?”
Hari ini sepertinya bapak-bapak dan ibu-ibu yang kompak memakai jubah hitam dengan sedikit plat hijau di lehernya pun ikut mencandai Kirana. Yang benar saja! Lalu anak siapa ini? Seperti Maryam mengandung Isa? Tanpa bapak??? Atau anak Jin?
Mengapa bajingan itu tak langsung saja berkata bahwa dia ingin bercerai karna Kirana sudah tak cantik lagi? Karena semakin perutnya membesar semakin Kirana tak terlihat seperti bidadari yang sering Doni katakan dulu? Sekarang, kalau saja Kirana sedang tidak hamil, dia akan melemparkan surat gugatan cerai pada Doni sebelum lelaki itu yang melakukannya karna Kirana tahu skandal busuk apa yang dia lakukan bersama sekretaris barunya yang cantik, tidak gendut dan tidak hamil.
“Apa saya terlihat seperti pelacur?" kirana membuka mulutnya sambil tak kuasa menitikan air mata di kedua pipinya. "Kalau terlihat begitu anggaplah anak yang saya kandung itu anak yang berasal dari 10 laki-laki. Tapi kalau ada yang masih mempercayai saya, tolong dengarkan tangisan seorang wanita yang akan menjadi janda ini, dengan berpon-pon beban menggelayut di perutnya! Tolong terjemahkan apa tangisan ini seperti tangisan seorang pelacur yang tengah memeras dan menuduh seorang laki-laki yang anda semua percayai tak ikut bertanggung jawab atas kehamilan ini??” Selepas itu, tak ada yang Kirana ingat kecuali ledakan tangisnya dan keputusan hakim untuk melanjutkan perkara di sidang berikutnya. Dan tangisan itu masih menemukan sisa-sisanya saat Kirana sudah duduk di kursi yang berbeda, kursi sebuah taksi.
Putus asa bukanlah hadiah yang diinginkannya dari Tuhan di hari ulang tahunnya ini. Tapi ketegaran. Kirana menginginkan ketegaran yang lebih pantas didapatnya setelah menghadapi berbagai cacian hidup. Dimanakah ketegaran itu?? Apa bisa dilakukan dalam bentuk pembalasan? Jika Kirana tak bisa tegar maka harus ada pembalasan. Pembalasan bahwa Kirana bisa menghamili laki-laki lalu meninggalkan laki-laki itu sesuka hatinya.
“Mbak, ada yang bisa saya bantu?” Supir taksi itu sesekali melihat kaca spionnya, “dari tadi mbak belum kasih tahu saya mbak mau kemana.”
Kirana menjawab, “Saya mau ke tempat pelacuran laki-laki. Dimana saya bisa menghamili salah satu diantaranya.”
“Maksud mbak??” Si supir taksi terpekik.
“Apa bapak mau saya hamili?”
* * *
Sepasang kakinya menopang perjalanan Kirana yang sendirian dengan lapisan karet dari sandal teplek pembalut dampalnya. Kali ini langkahnya tak lagi berat oleh si jabang bayi yang menggelayut di perutnya yang kian hari kian membadut, melainkan oleh beban-beban perceraian yang tengah dirancang apik oleh suaminya. Ular jantan itu sangat pintar membuat gugatan cerainya masuk jadwal sidang. Nampaknya dia sudah tak kerasan berlama-lama dihantui Kirana dan si Jabang bayi yang nanti akan memanggilnya 'bapak'. Hari ini, kamis jam 10 pagi adalah hari pertama pengadilan dan aparatus didalamnya mencampuri urusan rumah tangganya. Kirana tak perlu membayar pengacara. Untuk apa? Keadilanpun sudah tak dipertontonkan lagi di tempat itu. Semuanya bermain dompet. Apalagi, Doni Karyadi sekarang adalah seorang pengusaha sukses, yang sebelumnya cuma pekerja biasa dan akhirnya berhasil dipromosikan sebagai manager.
Sendirian. Kirana hanya sendirian. Seakan cuma dirinya yang perduli dengan kegagalan hidupnya. Tak ada sandaran. Semuanya telah meninggalkan Kirana karena dulu Kirana sendiri yang memutuskan ikatan dengan keluarganya gara-gara menikah dengan lelaki pemabuk itu. Lalu nanti siapa yang akan membantunya menemukan celah untuk tetap bernafas? Masih ada Tuhan. Selalu ada Tuhan dan hadiah kecil yang dua bulan lagi akan segera turun ke dunia. Tanpa bapak? Yang benar saja!
Kirana menyeret langkah-langkah terakhirnya sebelum memasuki ruang sidang sambil berdialog dengan hatinya. Dia mencari-cari Tuhan barangkali tengah berada di hatinya lalu bisa memberikan sedikit belas kasihan-Nya berupa ketegaran seorang wanita. “Ternyata seperti ini toh ruang sidang yang sering aku liat di tv. Thank God. Berkat kasih sayang-Mu, akhirnya aku bisa berada di ruangan yang penuh dengan showbiz tipuan ini. Lihat kebohongan apa yang akan mereka tamparkan padaku! Aku tak sabar menunggu.” Selangkah lagi menduduki kursi panas itu, dia menengok kesana-kemari mencari batang hidung bajingan itu. Ternyata suaminya tidak datang. Hal ini tak usah lah dipertanyakan, karena dengan uangnya, dia bisa membuat mulut S.H-S.H itu menjadi mulutnya. Tak apa, lagi pula melihat wajahnya hanya akan membuat Kirana ingin memuntahkan isi perutnya ke wajah bajingan itu.
Sidang pertama itu berjalan dengan sangat lancar. Kirana tak menyulitkan proses persidangan. Semua pertanyaan dijawabnya dengan baik tanpa kebohongan. Tetap saja, karna uang kejujuran Kirana tak ada artinya lagi. Sudah menuntut pertanggungjawaban tetap saja gelagat pengkabulan gugatan cerai doni jelas nampak. Dengan syarat, Doni masih harus menafkahi Kirana sampai anaknya lahir, karna Kirana hidup sendirian. Tak ada yang menanggungnya, meskipun anak yang dikandung Kirana terbukti bukan anak kandung Doni. Ya, semuanya berjalan lancar, termasuk rasa sakit yang Doni rancang untuk wanita yang seharusnya tengah ia manja-manjakan itu. Masih terngiang jelas di benaknya saat mereka menanyai Kirana tentang status anak yang dikandungnya.
“Apa benar anak yang ada di kandungan saudari itu bukan anak saudara Doni?”
Hari ini sepertinya bapak-bapak dan ibu-ibu yang kompak memakai jubah hitam dengan sedikit plat hijau di lehernya pun ikut mencandai Kirana. Yang benar saja! Lalu anak siapa ini? Seperti Maryam mengandung Isa? Tanpa bapak??? Atau anak Jin?
Mengapa bajingan itu tak langsung saja berkata bahwa dia ingin bercerai karna Kirana sudah tak cantik lagi? Karena semakin perutnya membesar semakin Kirana tak terlihat seperti bidadari yang sering Doni katakan dulu? Sekarang, kalau saja Kirana sedang tidak hamil, dia akan melemparkan surat gugatan cerai pada Doni sebelum lelaki itu yang melakukannya karna Kirana tahu skandal busuk apa yang dia lakukan bersama sekretaris barunya yang cantik, tidak gendut dan tidak hamil.
“Apa saya terlihat seperti pelacur?" kirana membuka mulutnya sambil tak kuasa menitikan air mata di kedua pipinya. "Kalau terlihat begitu anggaplah anak yang saya kandung itu anak yang berasal dari 10 laki-laki. Tapi kalau ada yang masih mempercayai saya, tolong dengarkan tangisan seorang wanita yang akan menjadi janda ini, dengan berpon-pon beban menggelayut di perutnya! Tolong terjemahkan apa tangisan ini seperti tangisan seorang pelacur yang tengah memeras dan menuduh seorang laki-laki yang anda semua percayai tak ikut bertanggung jawab atas kehamilan ini??” Selepas itu, tak ada yang Kirana ingat kecuali ledakan tangisnya dan keputusan hakim untuk melanjutkan perkara di sidang berikutnya. Dan tangisan itu masih menemukan sisa-sisanya saat Kirana sudah duduk di kursi yang berbeda, kursi sebuah taksi.
Putus asa bukanlah hadiah yang diinginkannya dari Tuhan di hari ulang tahunnya ini. Tapi ketegaran. Kirana menginginkan ketegaran yang lebih pantas didapatnya setelah menghadapi berbagai cacian hidup. Dimanakah ketegaran itu?? Apa bisa dilakukan dalam bentuk pembalasan? Jika Kirana tak bisa tegar maka harus ada pembalasan. Pembalasan bahwa Kirana bisa menghamili laki-laki lalu meninggalkan laki-laki itu sesuka hatinya.
“Mbak, ada yang bisa saya bantu?” Supir taksi itu sesekali melihat kaca spionnya, “dari tadi mbak belum kasih tahu saya mbak mau kemana.”
Kirana menjawab, “Saya mau ke tempat pelacuran laki-laki. Dimana saya bisa menghamili salah satu diantaranya.”
“Maksud mbak??” Si supir taksi terpekik.
“Apa bapak mau saya hamili?”
* * *
Label:
feminist
Sabtu, 23 Januari 2010
Mengapa Tinggal di Negaraku?
Legra. Sebut saja itu Legra. Tak taulah itu nama suku, ras, kasta, atau apa! Yang jelas mereka punya banyak marga yang bikin aku pusing kepala saat Key satu per satu menyebutkannya.
"Apa saat kamu nyebutin semuanya aku harus ikut ngitung, Key?"
Nama-nama itu terdengar seperti mantra yang tengah dikomat-kamitkan. Key berhenti meracau. Lagipula Key tak hafal semua marga Legra yang dia anggap saudara serumpunnya itu.
"Gimana sih katanya sodara? Tapi ga apal!" Key meringis bingung. Aku paling senang membuatnya berhenti menceritakan keluarganya. Tapi aku tak pernah menolak jika Key bercerita tentang mereka. Bagaimanapun Key pacarku. Dan pacarku itu manusia yang lahir dari sebuah keluarga. Bukan dari tumpukan batu.
"Mungkin lain kali aku kasih tau nama2 marga Legra yang lain. Soalnya banyak banget, Bel"
"Yeah, with pleasure!". Sebenarnya aku tak usah tahu nama-nama aneh itu. Buat apa?? Aku tak mau mengenal mereka yang tak pernah menghargai orang-orangku.
Ya, garis bawahi itu. Tak menghargai orang-orangku. Orang-orang asli Indonesia bagian barat yang dari luar terkenal dengan kecantikan, keluguan, kesantunan sekaligus kebodohannya. Terlihat mudah dijerat, namun sebenarnya orang-orangku bukan orang-orang lemah, malahan penjerat. Kusebut orang-orang Kinan. Sebelum berpacaran dengan Key, aku sudah tahu isu seperti apa yang akan muncul saat berhubungan dengan Legra. Yakni keturunan dan harta. Garis besarnya itu. Aku tau ditelnya. Dari siapa lagi kalau bukan dari Mea! Mea, sahabatku yang juga lahir dari darah seorang Legra.
"Pait, Bel. Terkadang gue pengen dilahirin ulang. Ngga ada campuran Legra di aliran darah gue! Harusnya nyokap gue yang Kinan banget itu ga usah nikah sama bokap gw sampai akhirnya seumur hidup gue, gue dan nyokap gak pernah lepas dari hinaan ras mereka. Ras bokap gw sendiri." Tuturan itu terus mengiang ditelingaku dan langsung merangsang otak kiriku. Aku dan seorang Legra bukanlah hal yang baik. Itu yang dikatakan logikaku. Salah-salah Key dan keluarganya nanti menghinaku dan orang-orangku.
Lalu kenapa aku mencintai manusia Legra?? Mereka jelas-jelas cuma ingin tinggal di negaraku, meraup harta kekayaan, bukan untuk memakmurkan orang-orangku melainkan cukup untuk memperkaya orang-orangnya saja. Legra tak sudi menikahkan keturunan-keturunannya dengan orang-orangku, apalagi dengan Kinan yang diduga kuat mengidap penyakit materialistik akut. "Cuma 2 yang mereka takutin; mereka ga mau ngerusak keturunan mereka, yang dirasa keturunan terhebat. Dan kedua mereka ga mau harta mereka dikuasai sama orang-orang yang bukan rasnya. Itu aja. Makanya mereka membatasi diri sama orang-orang kita. Ya, orang-orang kita karna gue ngerasa gue berjiwa Kinan, meskipun muka gue Legra. Hehe. Gue lebih mencintai Kinan. Orang-orang Kinan ngga rasis!".
Dan itulah yang setiap harinya membuatku merasa berbeda dengan Key. Orang-orangku bahkan sudah tak perduli dengan isu-isu ras. Kami tak pernah membatasi harus berhubungan dan menikah dengan siapa, dengan keturunan apa. Sedangkan orang-orang Key sangat mengutamakan persamaan untuk membuat hidup mereka lebih sempurna. Lalu, sekali lagi mengapa aku dan Key saling jatuh cinta? Kurasa semua ini sangat konyol, harus kucing-kucingan dari keluarga Key sementara keluargaku sangat menerima Key bahkan menghormati Key.
"Ati-ati, Bel. Mungkin sekarang lo berhasil nyembunyiin hubungan kalian dari keluarga Key. Tapi suatu hari lo pasti ngerasain betapa sakitnya perbedaan kalian itu."
Mea benar. Dulu saat hubunganku dan Key baru menginjak satu bulan, saat kakak Key merasa gelagat Key mencurigakan dia langsung mencarikan wanita Legra untuk dijodohkan dengan Key. Key tak bisa menolak, dia memang sangat menghormati keluarganya apa lagi kakaknya. Saat itu hatiku benar-benar hancur. Apalagi jika benar yang kupunya ini adalah hati wanita Kinan, terkutuklah aku menangisinya. Hati wanita kinan seharusnya ditata dengan penuh kesombongan. Kinan selalu menghasilkan keturunan-keturunan terbaik yang bisa menjerat siapapun untuk membuatnya lebih terhormat, bukan untuk terinjak-injak. Lagipula, apa itu perjodohan?? Apa tak cukup ku hina-hina cerita kuno seperti itu di televisi?? Kupikir perjodohan adalah perbuatan manusia primitif, dan pengkotak-kotakan ras manusia adalah perbuatan mahluk yang merasa terlahir dari emas dengan sendirinya, bukan diciptakan Tuhan. Ya, bukan mahluk Tuhan. Apa mereka yang mengerti agama itu tidak tahu bahwa Tuhan bukan tanpa sengaja menciptakan manusia itu dengan berbagai perbedaan? Tuhan pasti menginginkan ciptaan-Nya untuk saling membaur, saling bisa memahami, saling melengkapi, dan saling menutupi bahwa perbedaan itu cuma hal nampak yang diklasifikasikan oleh manusia, karna pada dasarnya Tuhan tak pernah membedakan ciptaan-Nya.
"Kita pasti bisa ngelewatin semua ini, sayang. Aku akan cari cara biar cewek itu iflil sama aku." Key berusaha membesarkan hatiku. Ya, coba saja! Sekalipun itu yang diusahakan Key, tetap saja aku merasa harus ada waktu yang tepat untuk menyadari semua ini bukan hal yang baik. Bukan hal baik untuk masuk ke sistem patriarki lalu harus merusaknya. Bodoh! Mau mengusahakan apa? Tetap saja suatu hari perjodohan yang berhasil Key lewati dengan berbagai cara membuat wanita itu ilfil akan kutemui lagi. Perjodohan yang nantinya akan membuatku semakin terkutuk sebagai Kinan yang lemah.
Satu tahun berhasil kami lewati dengan main kucing-kucingan dari keluarga Key. Celakanya, semakin lama perasaan ini semakin dalam. Karna terlanjur dalam, sering kali Key membuatku sakit saat dia menceritakan keluarganya yang tak pernah ku temui wujudnya. Sungguh tak adil. Keluargaku sangat menghormati Key. Key cukup mengenal kami luar dalam. Sementara aku hanya tau nama-nama keluarganyanya saja.
"Nanti kalau aku jadi sama kamu, aku ngga mau pake nama marga kamu, Key." Key tersentak. Dia menengok ke arahku perlahan. Mulutnya yang masih penuh dengan sushi membuatnya tak bisa bertanya. "ya, aku ngga mau aja ninggalin tradisiku yang ngga pernah pake nama marga, atau pembedaan semacamnya. Kamu tau kenapa kinan ngga punya nama marga? Karna Kinan ngga pernah mau saudaranya terpecah gara-gara beda marga. Aku pun ngga mau pecah dari saudara-saudaraku saat aku harus memakai nama margamu."
Sushi sudah bersih dari mulut Key. Kali ini Key tergagu. "ya... Itu sih... Masalah nanti."
"Kalau kamu ngga bisa mastiin sekarang….” Aku menggantung ucapanku. Teringat kembali ucapan ibuku di benak ini. “Ibu ngga mau kalau gara-gara rasa cintamu itu, keluarga kita harus terhina. Ibu sangat menghormati Key. Dia memang anak yang baik dan sopan. Tapi bukan karna itu akhirnya ibu dan ayahmu harus mengemis restu dari keluarga Key. Tak mau ibu melihatmu harus menikah dengan bantuan pengorbanan keluarga kita yang terhina. Kamu juga masih bisa mendapatkan pria yang lebih baik. Kalau harus mengemis, ibu takkan merestui. Gampang saja. Ibu tak melarang kamu berhubungan dengan Key, tapi ibu sarankan, lupakan dia perlahan-lahan. Kamu pasti bisa.” Aku menghela nafasku, kali ini terasa lebih berat karna pria yang tengah ku tatap ini pria yang paling aku cintai. Lagi, kuteringat ucapan Mea. “Kalaupun nanti lo jadi sama Key, jangan kayak nyokap gue. Ngga pernah mau nyimpen harga diri di atas kepalanya. Alhasil, dihina terus sampe akhirnya bokap nyokap cerai dan gue ngga bisa setiap hari ngeliat bokap gue. Simpen harga diri lo di atas kepala lo! Kalopun ngga lebih tinggi dari mereka, seenggaknya setara. Jangan nunduk! Kecuali lo masih nganggap kita ini orang-orang terjajah. Inget, mereka yang numpang hidup di negara kita. Ngga lucu aja kalo kita harus tunduk sama orang-orang itu. Orang-orang yang memperkaya diri di negara kita, tapi ngga pernah mau ngikutin aturan kita.”
“Kenapa sih mereka ngga mau keturunannya kecampur sama ras lain?”
“Karena mereka pikir, ngga ada keturunan yang lebih baik dari keturuan-keturunan mereka. Itu aja.”
Oke Bella, apa semua itu kurang jelas??? Ku pikir sudah jelas. Tak ada yang lebih salah kecuali telah mencintai seorang Legra begitu dalam. Sekarang, besok, nanti, kapanpun itu kenyataan mengemis restu pasti akan ku hadapi. Sekarang tinggal pilih; cinta atau harga diri yang menurutku lebih berarti?
“Kalau kamu ngga bisa mastiin sekarang... seenggaknya kasih tahu aku rencana kamu buat menghadapi momen horor itu, Key?” Key tak langsung menjawab. Cukup lama dia mencari kata-kata yang harus diucapkannya.
“Masalahnya aku cinta banget sama keluarga aku. Dan aku tau kamu juga cinta sama keluarga kamu. Aku ngga mau kita jadi pembangkang. Tapi aku akan usahain bikin kamu diterima dengan baik di keluarga aku.”
“Usaha kayak apa??”
“Ya, mungkin aku ngga langsung ngenalin kamu sebagai pacar aku, tapi sebagai temen aku. Kita bisa bikin keluargaku sadar dengan sendirinya kalau kamu itu orang yang baik....”
“Tapi aku bukan salah satu ras kamu, Key.” Aku memotong ucapan Key.
“Kita belum nyoba kan, Bel? Kita usaha aja dulu.”
“Kamu tau usaha apa yang lagi aku lakuin sekarang?” Key menggeleng. “Aku lagi berusaha ngilangin rasa cinta aku ke kamu. Sekarang aku cuma butuh bantuan kamu. Karna kalau aku ngelakuin ini sendirian, aku malah semakin ngga bisa. Bantu aku buat ngga terlalu cinta sama kamu. Bantu aku buat perlahan-lahan ngelupain kamu, dengan bantuan kamu aku pasti bisa.”
Key tercengang. Matanya mencari-cari arah dimana dia tak harus berkata apa-apa dan tak harus menjawab keinginanku itu. Key diam. Selama yang tak pernah dia lakukan.
* * *
"Apa saat kamu nyebutin semuanya aku harus ikut ngitung, Key?"
Nama-nama itu terdengar seperti mantra yang tengah dikomat-kamitkan. Key berhenti meracau. Lagipula Key tak hafal semua marga Legra yang dia anggap saudara serumpunnya itu.
"Gimana sih katanya sodara? Tapi ga apal!" Key meringis bingung. Aku paling senang membuatnya berhenti menceritakan keluarganya. Tapi aku tak pernah menolak jika Key bercerita tentang mereka. Bagaimanapun Key pacarku. Dan pacarku itu manusia yang lahir dari sebuah keluarga. Bukan dari tumpukan batu.
"Mungkin lain kali aku kasih tau nama2 marga Legra yang lain. Soalnya banyak banget, Bel"
"Yeah, with pleasure!". Sebenarnya aku tak usah tahu nama-nama aneh itu. Buat apa?? Aku tak mau mengenal mereka yang tak pernah menghargai orang-orangku.
Ya, garis bawahi itu. Tak menghargai orang-orangku. Orang-orang asli Indonesia bagian barat yang dari luar terkenal dengan kecantikan, keluguan, kesantunan sekaligus kebodohannya. Terlihat mudah dijerat, namun sebenarnya orang-orangku bukan orang-orang lemah, malahan penjerat. Kusebut orang-orang Kinan. Sebelum berpacaran dengan Key, aku sudah tahu isu seperti apa yang akan muncul saat berhubungan dengan Legra. Yakni keturunan dan harta. Garis besarnya itu. Aku tau ditelnya. Dari siapa lagi kalau bukan dari Mea! Mea, sahabatku yang juga lahir dari darah seorang Legra.
"Pait, Bel. Terkadang gue pengen dilahirin ulang. Ngga ada campuran Legra di aliran darah gue! Harusnya nyokap gue yang Kinan banget itu ga usah nikah sama bokap gw sampai akhirnya seumur hidup gue, gue dan nyokap gak pernah lepas dari hinaan ras mereka. Ras bokap gw sendiri." Tuturan itu terus mengiang ditelingaku dan langsung merangsang otak kiriku. Aku dan seorang Legra bukanlah hal yang baik. Itu yang dikatakan logikaku. Salah-salah Key dan keluarganya nanti menghinaku dan orang-orangku.
Lalu kenapa aku mencintai manusia Legra?? Mereka jelas-jelas cuma ingin tinggal di negaraku, meraup harta kekayaan, bukan untuk memakmurkan orang-orangku melainkan cukup untuk memperkaya orang-orangnya saja. Legra tak sudi menikahkan keturunan-keturunannya dengan orang-orangku, apalagi dengan Kinan yang diduga kuat mengidap penyakit materialistik akut. "Cuma 2 yang mereka takutin; mereka ga mau ngerusak keturunan mereka, yang dirasa keturunan terhebat. Dan kedua mereka ga mau harta mereka dikuasai sama orang-orang yang bukan rasnya. Itu aja. Makanya mereka membatasi diri sama orang-orang kita. Ya, orang-orang kita karna gue ngerasa gue berjiwa Kinan, meskipun muka gue Legra. Hehe. Gue lebih mencintai Kinan. Orang-orang Kinan ngga rasis!".
Dan itulah yang setiap harinya membuatku merasa berbeda dengan Key. Orang-orangku bahkan sudah tak perduli dengan isu-isu ras. Kami tak pernah membatasi harus berhubungan dan menikah dengan siapa, dengan keturunan apa. Sedangkan orang-orang Key sangat mengutamakan persamaan untuk membuat hidup mereka lebih sempurna. Lalu, sekali lagi mengapa aku dan Key saling jatuh cinta? Kurasa semua ini sangat konyol, harus kucing-kucingan dari keluarga Key sementara keluargaku sangat menerima Key bahkan menghormati Key.
"Ati-ati, Bel. Mungkin sekarang lo berhasil nyembunyiin hubungan kalian dari keluarga Key. Tapi suatu hari lo pasti ngerasain betapa sakitnya perbedaan kalian itu."
Mea benar. Dulu saat hubunganku dan Key baru menginjak satu bulan, saat kakak Key merasa gelagat Key mencurigakan dia langsung mencarikan wanita Legra untuk dijodohkan dengan Key. Key tak bisa menolak, dia memang sangat menghormati keluarganya apa lagi kakaknya. Saat itu hatiku benar-benar hancur. Apalagi jika benar yang kupunya ini adalah hati wanita Kinan, terkutuklah aku menangisinya. Hati wanita kinan seharusnya ditata dengan penuh kesombongan. Kinan selalu menghasilkan keturunan-keturunan terbaik yang bisa menjerat siapapun untuk membuatnya lebih terhormat, bukan untuk terinjak-injak. Lagipula, apa itu perjodohan?? Apa tak cukup ku hina-hina cerita kuno seperti itu di televisi?? Kupikir perjodohan adalah perbuatan manusia primitif, dan pengkotak-kotakan ras manusia adalah perbuatan mahluk yang merasa terlahir dari emas dengan sendirinya, bukan diciptakan Tuhan. Ya, bukan mahluk Tuhan. Apa mereka yang mengerti agama itu tidak tahu bahwa Tuhan bukan tanpa sengaja menciptakan manusia itu dengan berbagai perbedaan? Tuhan pasti menginginkan ciptaan-Nya untuk saling membaur, saling bisa memahami, saling melengkapi, dan saling menutupi bahwa perbedaan itu cuma hal nampak yang diklasifikasikan oleh manusia, karna pada dasarnya Tuhan tak pernah membedakan ciptaan-Nya.
"Kita pasti bisa ngelewatin semua ini, sayang. Aku akan cari cara biar cewek itu iflil sama aku." Key berusaha membesarkan hatiku. Ya, coba saja! Sekalipun itu yang diusahakan Key, tetap saja aku merasa harus ada waktu yang tepat untuk menyadari semua ini bukan hal yang baik. Bukan hal baik untuk masuk ke sistem patriarki lalu harus merusaknya. Bodoh! Mau mengusahakan apa? Tetap saja suatu hari perjodohan yang berhasil Key lewati dengan berbagai cara membuat wanita itu ilfil akan kutemui lagi. Perjodohan yang nantinya akan membuatku semakin terkutuk sebagai Kinan yang lemah.
Satu tahun berhasil kami lewati dengan main kucing-kucingan dari keluarga Key. Celakanya, semakin lama perasaan ini semakin dalam. Karna terlanjur dalam, sering kali Key membuatku sakit saat dia menceritakan keluarganya yang tak pernah ku temui wujudnya. Sungguh tak adil. Keluargaku sangat menghormati Key. Key cukup mengenal kami luar dalam. Sementara aku hanya tau nama-nama keluarganyanya saja.
"Nanti kalau aku jadi sama kamu, aku ngga mau pake nama marga kamu, Key." Key tersentak. Dia menengok ke arahku perlahan. Mulutnya yang masih penuh dengan sushi membuatnya tak bisa bertanya. "ya, aku ngga mau aja ninggalin tradisiku yang ngga pernah pake nama marga, atau pembedaan semacamnya. Kamu tau kenapa kinan ngga punya nama marga? Karna Kinan ngga pernah mau saudaranya terpecah gara-gara beda marga. Aku pun ngga mau pecah dari saudara-saudaraku saat aku harus memakai nama margamu."
Sushi sudah bersih dari mulut Key. Kali ini Key tergagu. "ya... Itu sih... Masalah nanti."
"Kalau kamu ngga bisa mastiin sekarang….” Aku menggantung ucapanku. Teringat kembali ucapan ibuku di benak ini. “Ibu ngga mau kalau gara-gara rasa cintamu itu, keluarga kita harus terhina. Ibu sangat menghormati Key. Dia memang anak yang baik dan sopan. Tapi bukan karna itu akhirnya ibu dan ayahmu harus mengemis restu dari keluarga Key. Tak mau ibu melihatmu harus menikah dengan bantuan pengorbanan keluarga kita yang terhina. Kamu juga masih bisa mendapatkan pria yang lebih baik. Kalau harus mengemis, ibu takkan merestui. Gampang saja. Ibu tak melarang kamu berhubungan dengan Key, tapi ibu sarankan, lupakan dia perlahan-lahan. Kamu pasti bisa.” Aku menghela nafasku, kali ini terasa lebih berat karna pria yang tengah ku tatap ini pria yang paling aku cintai. Lagi, kuteringat ucapan Mea. “Kalaupun nanti lo jadi sama Key, jangan kayak nyokap gue. Ngga pernah mau nyimpen harga diri di atas kepalanya. Alhasil, dihina terus sampe akhirnya bokap nyokap cerai dan gue ngga bisa setiap hari ngeliat bokap gue. Simpen harga diri lo di atas kepala lo! Kalopun ngga lebih tinggi dari mereka, seenggaknya setara. Jangan nunduk! Kecuali lo masih nganggap kita ini orang-orang terjajah. Inget, mereka yang numpang hidup di negara kita. Ngga lucu aja kalo kita harus tunduk sama orang-orang itu. Orang-orang yang memperkaya diri di negara kita, tapi ngga pernah mau ngikutin aturan kita.”
“Kenapa sih mereka ngga mau keturunannya kecampur sama ras lain?”
“Karena mereka pikir, ngga ada keturunan yang lebih baik dari keturuan-keturunan mereka. Itu aja.”
Oke Bella, apa semua itu kurang jelas??? Ku pikir sudah jelas. Tak ada yang lebih salah kecuali telah mencintai seorang Legra begitu dalam. Sekarang, besok, nanti, kapanpun itu kenyataan mengemis restu pasti akan ku hadapi. Sekarang tinggal pilih; cinta atau harga diri yang menurutku lebih berarti?
“Kalau kamu ngga bisa mastiin sekarang... seenggaknya kasih tahu aku rencana kamu buat menghadapi momen horor itu, Key?” Key tak langsung menjawab. Cukup lama dia mencari kata-kata yang harus diucapkannya.
“Masalahnya aku cinta banget sama keluarga aku. Dan aku tau kamu juga cinta sama keluarga kamu. Aku ngga mau kita jadi pembangkang. Tapi aku akan usahain bikin kamu diterima dengan baik di keluarga aku.”
“Usaha kayak apa??”
“Ya, mungkin aku ngga langsung ngenalin kamu sebagai pacar aku, tapi sebagai temen aku. Kita bisa bikin keluargaku sadar dengan sendirinya kalau kamu itu orang yang baik....”
“Tapi aku bukan salah satu ras kamu, Key.” Aku memotong ucapan Key.
“Kita belum nyoba kan, Bel? Kita usaha aja dulu.”
“Kamu tau usaha apa yang lagi aku lakuin sekarang?” Key menggeleng. “Aku lagi berusaha ngilangin rasa cinta aku ke kamu. Sekarang aku cuma butuh bantuan kamu. Karna kalau aku ngelakuin ini sendirian, aku malah semakin ngga bisa. Bantu aku buat ngga terlalu cinta sama kamu. Bantu aku buat perlahan-lahan ngelupain kamu, dengan bantuan kamu aku pasti bisa.”
Key tercengang. Matanya mencari-cari arah dimana dia tak harus berkata apa-apa dan tak harus menjawab keinginanku itu. Key diam. Selama yang tak pernah dia lakukan.
* * *
Label:
ras manusia
Kamis, 21 Januari 2010
Sedihnya Jadi Arnet
Namaku Arnet. Keluargaku tak kaya, tak juga miskin. Kami hidup berkecukupan setidaknya kami tak pernah kekurangan pangan dan sandang. Kami hidup di sebuah desa yang--kalau indonesia bisa dibilang negara berkembang, desaku desa berkembang. Selama ini orang tuaku selalu mengajarkanku untuk berteman dengan siapa saja. Tak boleh memilih, karna ketika kita punya banyak teman dengan karakter yang berbeda, kita takkan pernah kehilangan jalan untuk meraih apapun. Mungkin saja kan aku mendapatkan jodohku lewat tangan temanku? Mungkin. Dan tak ku sangka akhirnya aku berubah pikiran, ku kira selama ini tak pernah memilih teman karna Tuhan selalu menjodohkan teman terbaik untukku yang tak pernah mengecilkan hatiku. Namun saat ku berteman dengan Trias, saat aku diekspor ke kota, rasanya aku harus memilih teman.
Trias, Lola dan aku mulai berteman ketika kami dipertemukan di sebuah universitas swasta di jurusan yang sama. Trias dan Lola adalah dua wanita yang sangat cantik yang tak jarang membuatku iri. Dulu ku rasa, mereka berdua telah diberikan kesempurnaan oleh Tuhan, tapi kucabut lagi perspektif itu saat aku tersadar bahwa Trias selalu memandang orang dari harta, fisik dan kecantikannya saja. Pernah suatu hari saat seseorang yang menurutnya tidak cantik (hei, sebenarnya semua wanita itu cantik) memakai baju 'mango' berwarna pink. Sontak dia berkata dengan kesaksian kedua telingaku yang belum tuli, "Tuh cewek ga punya kaca apa di rumah? Baju mango ga cocok kali di muka dia! Kebagusan. Warna pink pula. Kulit item cocoknya pake warna-warna standar". Belum mau aku komentari itu. Sejurus kemudian saat melihat sepasang kekasih yang menaiki 'mercy' entah tipe berapa itu (aku tuna merek), Trias langsung berceloteh ala sombongnya saat melihat wanita yang duduk di sebelah pengemudi, "cewek model begitu gak cocok naik mercy, yang cocok tuh gue!". Sekali lagi belum mau aku komentari. Yang terahir saat dia sangat mendewakan kecantikan Lola, aku bilang begini, "Lola tuh mirip Dara ya? Dari tulang-tulang mukanya. Kalo Dara putih pasti mirip banget.". Trias membantah "Penghinaan lu net! Lola sama Dara bagaikan langit dan bumi kali!". Ya Tuhan, mudah-mudahan selama ini aku hanya salah dengar saja. Seperti itu dia menilai orang, khususnya wanita. Bagaimana dengan aku?? Yang dia bilang temannya. Aku tak cantik, tak langsing, tak kaya, tak bermobil dan tak memakai Blackberry. Kulitku hitam, wajahku berjerawat, baju-bajuku bukan produk sekelas mango, dan aku tak memiliki pacar yang dengan gagahnya membawa mercy. Trias bisa menilai orang-orang dengan begitu picik, dan tak mungkin dia tak menilaiku seperti itu di belakangku.
Lola pun merasakan hal yang sama. Terakhir Lola berkata padaku, Trias tak pernah percaya jika aku juga punya baju-baju bermerek. Selalu saja dia bantah itu, dia pikir baju zara ku bajakan, logoku second hand, dan saat ku baru-baru ini membeli kaos mango dia berkata, "tumben??". Sedih sekali jadi Arnet. Bahkan mungkin suatu hari saat aku lebih kaya darinya, dia akan berpikir aku main dukun. Sakit sekali, baru ku sadari dia itu bukan temanku. Dia tak lebih dari sekedar monster pelahap merek. Sudah tak kuasa, ku bongkar saja semuanya pada Lola. Selama ini Trias tak pernah menyukai cara Lola mengikuti barang-barang miliknya, dia bilang Lola penguntit, dan tak punya style sendiri. Lola tak kaget mendengarnya, dia bilang dia sudah tahu kalau Trias pasti seperti itu menilainya. Sekarang, Lola pun tau saat Trias memuja-muja kecantikan Lola, itu hanya basa-basi-busuk untuk membuat semua orang berkata; "ngga Tri, lo lebih cantik kok!"
Trias, Lola dan aku mulai berteman ketika kami dipertemukan di sebuah universitas swasta di jurusan yang sama. Trias dan Lola adalah dua wanita yang sangat cantik yang tak jarang membuatku iri. Dulu ku rasa, mereka berdua telah diberikan kesempurnaan oleh Tuhan, tapi kucabut lagi perspektif itu saat aku tersadar bahwa Trias selalu memandang orang dari harta, fisik dan kecantikannya saja. Pernah suatu hari saat seseorang yang menurutnya tidak cantik (hei, sebenarnya semua wanita itu cantik) memakai baju 'mango' berwarna pink. Sontak dia berkata dengan kesaksian kedua telingaku yang belum tuli, "Tuh cewek ga punya kaca apa di rumah? Baju mango ga cocok kali di muka dia! Kebagusan. Warna pink pula. Kulit item cocoknya pake warna-warna standar". Belum mau aku komentari itu. Sejurus kemudian saat melihat sepasang kekasih yang menaiki 'mercy' entah tipe berapa itu (aku tuna merek), Trias langsung berceloteh ala sombongnya saat melihat wanita yang duduk di sebelah pengemudi, "cewek model begitu gak cocok naik mercy, yang cocok tuh gue!". Sekali lagi belum mau aku komentari. Yang terahir saat dia sangat mendewakan kecantikan Lola, aku bilang begini, "Lola tuh mirip Dara ya? Dari tulang-tulang mukanya. Kalo Dara putih pasti mirip banget.". Trias membantah "Penghinaan lu net! Lola sama Dara bagaikan langit dan bumi kali!". Ya Tuhan, mudah-mudahan selama ini aku hanya salah dengar saja. Seperti itu dia menilai orang, khususnya wanita. Bagaimana dengan aku?? Yang dia bilang temannya. Aku tak cantik, tak langsing, tak kaya, tak bermobil dan tak memakai Blackberry. Kulitku hitam, wajahku berjerawat, baju-bajuku bukan produk sekelas mango, dan aku tak memiliki pacar yang dengan gagahnya membawa mercy. Trias bisa menilai orang-orang dengan begitu picik, dan tak mungkin dia tak menilaiku seperti itu di belakangku.
Lola pun merasakan hal yang sama. Terakhir Lola berkata padaku, Trias tak pernah percaya jika aku juga punya baju-baju bermerek. Selalu saja dia bantah itu, dia pikir baju zara ku bajakan, logoku second hand, dan saat ku baru-baru ini membeli kaos mango dia berkata, "tumben??". Sedih sekali jadi Arnet. Bahkan mungkin suatu hari saat aku lebih kaya darinya, dia akan berpikir aku main dukun. Sakit sekali, baru ku sadari dia itu bukan temanku. Dia tak lebih dari sekedar monster pelahap merek. Sudah tak kuasa, ku bongkar saja semuanya pada Lola. Selama ini Trias tak pernah menyukai cara Lola mengikuti barang-barang miliknya, dia bilang Lola penguntit, dan tak punya style sendiri. Lola tak kaget mendengarnya, dia bilang dia sudah tahu kalau Trias pasti seperti itu menilainya. Sekarang, Lola pun tau saat Trias memuja-muja kecantikan Lola, itu hanya basa-basi-busuk untuk membuat semua orang berkata; "ngga Tri, lo lebih cantik kok!"
Label:
full-branded thought
Langganan:
Postingan (Atom)
Sepatu Kaca Punya Siapa © 2008 | Coded by Randomness | Illustration by Wai | Design by betterinpink!
