Pages

Minggu, 07 Oktober 2012

Salah (?)

By: Ghea Lisanova

Dari sederet jadwal padat Demian hari ini, dia menyempatkan diri mampir ke toko DVD langganannya dekat kampus. Pesanan filmnya sudah datang, dan film itu cukup penting untuk segera diambil. Penjaga toko tampak sibuk melayani pelanggan yang lain. Demian tak bisa menunggu lagi, ada recording session yang sudah menantinya. Dia langsung mencari dimana DVD itu berada setelah penjaga toko menunjuk rak koleksi film drama.

Terlambat. Seseorang sudah mengambilnya. Kabar baiknya, orang itu belum begitu jauh dari Demian.

“Sorry, DVD yang lo pegang itu punya gue.” Demian berhasil menghentikan langkah seorang cewek dengan tinggi sedagunya, berbadan kurus jenis-jenis cewek yang tidak suka olah raga, dengan rambut sebahu. Cewek itu menoleh.

“Maksud lo? DVD ini?” tanyanya sambil mengangkat DVD berjudul ‘Sid and Nancy’ yang tengah ia genggam. Ada jeda beberapa detik sebelum Demian sanggup buka mulut untuk menjelaskan. Sesuatu seperti menyengat nadi Demian, keluar dari dua bola mata belo dan bibir tipis cewek itu. Cantik.

“Ya, itu udah gue pesen dari lama.” Mata Demian nampak bingung memilih antara melihat mata cewek itu atau DVD yang tengah ia pegang. Satu lagi yang mengusik Demian, cewek itu pasti cukup keren untuk menonton film drama biografi tokoh rock and roll jadul seperti itu.

“Lo belum bayar ini kan? Berarti, ini belum jadi milik lo.” Cewek itu ngeloyor pergi menuju cashier.

“Hei, please! That’s important for me. Lo bisa cari di toko lain.”

“Lo juga. Bisa cari di toko lain atau download dari internet.”

“Lo tau kan, itu original copy?”

“Yeah, that’s why I’m not giving it up to you!” Cewek itu ngotot.

“Maaf mbak, DVD ini udah dipesen sama mas Demian dari jauh hari. Mbak bisa pesen langsung ke saya dan bisa ambil minggu depan.” Seorang laki-lagi di meja cashier menengahi. Cewek itu kemudian diam. Tampak sedang mengumpulkan kerelaannya untuk memberikan DVD itu pada Demian. Lain dengan Demian. Dalam diam itu dia menikmati kecantikan cewek berbalutkan t-shirt ‘Ramones’, skinny jeans, dan boots dengan corak bendera inggris di bagian kepalanya.

“Ok, ambil deh!” diserahkannya DVD itu pada Demian. Sumringah, Demian segera mengambilnya. “Parah banget lo ambil ini dari gue!” Cewek itu pergi dengan marah. Namun Demian berhasil menahannya.

“Come on! Lo bisa pinjem ini dari gue kan? Kalo lo mau kasih tau nama lo dan nomor hp lo”.

***

Demian dan Denisa, inisial huruf yang sama itu kedengaran cocok untuk diukir di kartu undangan pernikahan, pikir Demian. Dia membolak-balik kartu undangan berwarna violet gold dengan ragu, seragu perasaannya akan keputusan yang telah ia buat, menikahi Camilla. Seharusnya, 5 tahun memacari Camilla sudah cukup membuang keraguannya untuk hidup bersama Camilla selama sisa umurnya. Namun, kehadiran Denisa membuat nama Camilla kemudian terasa kurang pas bersanding dengan namanya di kartu undangan itu.

“Gue baru kenal Denisa tiga hari, dan baru jalan sekali sama dia, tapi gue langsung ngerasa ‘click’. Tiba-tiba hati gue bilang kalau dia itu soulmate yang selama ini gue cari.” Ujar Demian pada Leo salah satu teman satu band yang paling dekat dengannya.

“Jangan buru-buru ambil kesimpulan. Man. Mungkin lo ngerasa butuh selingan aja gara-gara lo panik karna bentar lagi lo kawin sama Camilla.”

“Gue rasa nggak gitu. Denisa kayaknya sengaja dipertemukan sama gue buat jadi petunjuk kalo Camilla bukan orang yang tepat.” Leo diam. Tak berkomentar. “Gue bela-belain cari DVDnya ‘Sid and Nancy’ buat gue kasih liat ke Camilla gimana rock n’ roll nunjukin sisi romanticnya. Yang ditunggu-tungguin malah bilang ‘ini kisah cinta terbodoh yang pernah aku liat’. Beda sama Denisa. Dia antusias banget dan malah langsung maen gitar sambil nyanyi lagu-lagunya sex pistols. Belum lagi pengetahuannya sama musik-musik tahun 80an. Gue banget kan? Gue kayak ngeliat diri gue di Denisa.” Jelas Demian.

“Sekali lagi gue bilangin ke lo, man. Jangan buru-buru. Lo inget-inget lagi gimana lo bisa jatuh cinta sama Camilla, sampe mutusin buat nikahin dia setelah lima tahun pacaran. Lo mau tinggalin cewek yang udah lama lo kenal demi cewek yang baru tiga hari masuk ke kehidupan lo?”

“Kadang, kata-kata mutiara lo ganggu gue banget loh, man!” Demian melempar kartu undangan pernikahannya ke tubuh Leo, kemudian ngeloyor pergi. v ***

Galau itu semakin jadi saat semakin lama ia merasa nyaman berada di dekat Denisa. Belum pernah ia merasa secocok ini dengan cewek manapun termasuk Camilla. Segala yang ada pada cewek itu membuat tujuh puluh persen pilihan Demian mengarah padanya. Cukup satu pertanda lagi, genap sepenuh hati Demian siap batalkan pernikahannya dengan Camilla. Itu sikap. Karena menurutnya, terlambat itu tidak perlu menunggu sampai akhir, sampai dipelaminan baru dibatalkan. Secepat mungkin dia harus seratus persen yakin.

“Gue suka deh kalo lo lagi nyanyi sambil maen gitar gitu.” Demian memotong nyanyian Denisa di tengah-tengah lagu Don’t Cry dari Guns N’ Roses. “Lo seharusnya masuk ke studio recording jauh sebelum gue”

“Hahaha.. sempet loh gue dan lagu-lagu gue mau dibeli sama perusahaan major label. Tapi buat gue, musik itu nggak bisa dibeli. Kalo orang pengen menikmati, gue bisa bagi dengan gratis kok.” Jelas Denisa

“Wow! Cool!.” Demian berseru kagum “Kira-kira ada ga salah satu dari lagu ciptaan lo yang ngegambarin gue sama lo.” Demian memancing klu. Dia tak sabar menunggu.

“Ada. Mau gue nyanyiin?” Jawab Denisa tanpa ragu.

“Pleasure!”

Denisa mulai memainkan intro lagu yang begitu cantik. Wajahnya ceria merayakan bahagia. Yang dinyanyikan tertegun menyimak bait kata-kata indah keluar dari bibir mungil Denisa, seperti puisi-puisi cinta mahakarya sang pujangga. Lagu mengalun begitu mesra, tak banyak makna yang bisa Demian tangkap kecuali perasaan cinta. Terutama lirik “I’d never understand love if you didn’t come. Your existence explains the whole love that I need to know.” Seratus persen. Kini Demian sangat yakin akan keputusannya meninggalkan Camilla untuk Denisa. Cewek itu bikin Demian mabuk, mabuk cinta. Sejurus kemudian, ciuman hangat ia landaskan di bibir mungil itu, meninggalkan suara-suara di bumi, melayang ke angkasa.

***

Sore di café ini, puluhan kalimat yang Demian ungkapkan sama sekali tak menjelaskan apa-apa. Berbelit. Tapi Camilla tahu, mimik wajah itu menerjemahkan keraguan yang selama ini kekasihnya pendam. Camilla cukup mengerti bahwa Demian tengah berusaha menjelaskan perasaannya atas pernikahan mereka yang tidak ia yakini. Camilla sangat mengerti. Maka, dalam beberapa helaan nafas Demian saat bercerita, Camilla selalu tersenyum.

“Kamu punya kesetiaan yang hebat, Dem. Itu kenapa aku nggak perlu lama-lama liat kamu berlutut depan aku buat ngelamar aku, karna jawaban ‘ya’ udah kupersiapin dari lama.” Mendengar ucapan Camilla, Demian tercengang. Gerakan badannya canggung. “Lima tahun, saat cowok-cowok lain jalan-jalan sana sini dengan cewek yang beda-beda, kamu cuma jalan sama aku. Aku terharu akan hal itu. Kamu setia itu udah bikin aku merasa harus ngebalas kamu dengan kesetiaan yang sama bahkan lebih. Tapi setia aja nggak cukup karna kalau kita ngga yakin sama hubungan ini, setia jadi sia-sia.” Demian membisu. “Semua orang punya hak buat memilih. Termasuk memilih pasangan hidup yang dirasa sepadan. Aku pilih kamu. Dan itu ngga cukup kalo kamu nggak milih aku juga.”

“Hon…..” Demian berusaha memotong.

“Denger, Dem. Aku udah tahu tentang Denisa. Tentang segala kelebihannya yang nggak aku punya. Mungkin kamu bener, dia soulmate kamu, itu yang kamu yakini. Tapi perlu kamu tahu, beberapa minggu terakhir ini aku ketemu seseorang yang menurutku lebih baik dari kamu. Namanya , Hans. Arsitek. Dia suka desain, sama kayak aku.” Camilla mengambil nafas. Sambil mengamati reaksi Demian yang cukup kaget mendengar apa yang Camilla ceritakan. “Semua yang aku obrolin sama dia nyambung ketimbang ngobrolin music rock tua kesukaan kamu. Dalam waktu singkat aja Hans ngerti aku dari A sampe Z ketimbang kamu yang baru bisa ngerti aku setelah lima tahun kita pacaran. Perasaan aku sama kayak kamu. Rasanya Hans terlambat datang. Aku ragu. Sebanding sama ragunya kamu. Tapi akhirnya aku sadar bukan Hans yang terlambat datang, aku yang terlambat sadar bahwa Hans sengaja masuk untuk menguji keyakinan aku sebesar apa ke kamu. Dan ngeliat Hans, aku mencari-cari apa yang dia nggak punya dan cuma ada di kamu. Emang ngga lebih baik, tapi aku nyaman dengan itu.” Café ini cukup ramai, tapi Camilla masih bisa mendengarkan rintihan Demian dengan cukup jelas. Demian menangis. Camilla tak pernah melihat ia begitu sedih sebelumnya.

“Aku ngga bisa pilih yang lebih baik karna aku udah terbiasa sama kamu. Aku harap kamu juga ngelakuin hal yang sama tapi kamu ngga. Yah, aku kecewa. But maybe, this is the best, for you for us.” Camilla melepas cincin yang sudah tiga bulan melingkar di jari manisnya lalu menyerahkan itu pada Demian. “This five years was too beautiful to be true, and I’ll never forget.” Camilla beranjak pergi dengan ketegaran luar biasa yang tak pernah Demian bayangkan sebelumnya. Tubuh Demian kaku, seperti mati rasa. Dia tidak tahu, apakah organ tubuhnya masih bekerja dengan benar. Dia merasa seluruh aliran darahnya berhenti pada saat itu. Demian terus menyaksikan kepergian Camilla. Rambut hitam panjang dan punggung itu akan selalu ia ingat. Dia amat tahu, hatinya hancur.

***

Sakit memang sakit. Namun Demian tidak mau jadi cowok plin plan untuk merubah pilihannya lagi. Dia sudah sangat bodoh mengecewakan Camilla, dan dia tidak akan mengecewakan Denisa. Di perjalanan pulang, tiga perempat pikirannya masih teruju pada kejadian di café barusan, namun satu perempatnya lagi ada pada Camilla. Dia harus meneleponnya.

“Halo, Nis. Dimana?.... Hah? Lagi apa?...... Oh, Jemput adik kamu?..... Hah? Anak kamu? Becanda kan? Hahahah…… Hah?” Demian tercenung. “Jadi… kamu udah punya anak?..... Serius?..... Oh.. ngga apa-apa. Yaudah. Oke nanti kutelpon lagi” Demian memutus telepon itu. Tubuh Demian kaku, seperti mati rasa. Yang dia amat tahu, hatinya semakin hancur.

Ini salah (?)

THE END.

0 komentar:

Posting Komentar

Sepatu Kaca Punya Siapa © 2008 | Coded by Randomness | Illustration by Wai | Design by betterinpink!