Legra. Sebut saja itu Legra. Tak taulah itu nama suku, ras, kasta, atau apa! Yang jelas mereka punya banyak marga yang bikin aku pusing kepala saat Key satu per satu menyebutkannya.
"Apa saat kamu nyebutin semuanya aku harus ikut ngitung, Key?"
Nama-nama itu terdengar seperti mantra yang tengah dikomat-kamitkan. Key berhenti meracau. Lagipula Key tak hafal semua marga Legra yang dia anggap saudara serumpunnya itu.
"Gimana sih katanya sodara? Tapi ga apal!" Key meringis bingung. Aku paling senang membuatnya berhenti menceritakan keluarganya. Tapi aku tak pernah menolak jika Key bercerita tentang mereka. Bagaimanapun Key pacarku. Dan pacarku itu manusia yang lahir dari sebuah keluarga. Bukan dari tumpukan batu.
"Mungkin lain kali aku kasih tau nama2 marga Legra yang lain. Soalnya banyak banget, Bel"
"Yeah, with pleasure!". Sebenarnya aku tak usah tahu nama-nama aneh itu. Buat apa?? Aku tak mau mengenal mereka yang tak pernah menghargai orang-orangku.
Ya, garis bawahi itu. Tak menghargai orang-orangku. Orang-orang asli Indonesia bagian barat yang dari luar terkenal dengan kecantikan, keluguan, kesantunan sekaligus kebodohannya. Terlihat mudah dijerat, namun sebenarnya orang-orangku bukan orang-orang lemah, malahan penjerat. Kusebut orang-orang Kinan. Sebelum berpacaran dengan Key, aku sudah tahu isu seperti apa yang akan muncul saat berhubungan dengan Legra. Yakni keturunan dan harta. Garis besarnya itu. Aku tau ditelnya. Dari siapa lagi kalau bukan dari Mea! Mea, sahabatku yang juga lahir dari darah seorang Legra.
"Pait, Bel. Terkadang gue pengen dilahirin ulang. Ngga ada campuran Legra di aliran darah gue! Harusnya nyokap gue yang Kinan banget itu ga usah nikah sama bokap gw sampai akhirnya seumur hidup gue, gue dan nyokap gak pernah lepas dari hinaan ras mereka. Ras bokap gw sendiri." Tuturan itu terus mengiang ditelingaku dan langsung merangsang otak kiriku. Aku dan seorang Legra bukanlah hal yang baik. Itu yang dikatakan logikaku. Salah-salah Key dan keluarganya nanti menghinaku dan orang-orangku.
Lalu kenapa aku mencintai manusia Legra?? Mereka jelas-jelas cuma ingin tinggal di negaraku, meraup harta kekayaan, bukan untuk memakmurkan orang-orangku melainkan cukup untuk memperkaya orang-orangnya saja. Legra tak sudi menikahkan keturunan-keturunannya dengan orang-orangku, apalagi dengan Kinan yang diduga kuat mengidap penyakit materialistik akut. "Cuma 2 yang mereka takutin; mereka ga mau ngerusak keturunan mereka, yang dirasa keturunan terhebat. Dan kedua mereka ga mau harta mereka dikuasai sama orang-orang yang bukan rasnya. Itu aja. Makanya mereka membatasi diri sama orang-orang kita. Ya, orang-orang kita karna gue ngerasa gue berjiwa Kinan, meskipun muka gue Legra. Hehe. Gue lebih mencintai Kinan. Orang-orang Kinan ngga rasis!".
Dan itulah yang setiap harinya membuatku merasa berbeda dengan Key. Orang-orangku bahkan sudah tak perduli dengan isu-isu ras. Kami tak pernah membatasi harus berhubungan dan menikah dengan siapa, dengan keturunan apa. Sedangkan orang-orang Key sangat mengutamakan persamaan untuk membuat hidup mereka lebih sempurna. Lalu, sekali lagi mengapa aku dan Key saling jatuh cinta? Kurasa semua ini sangat konyol, harus kucing-kucingan dari keluarga Key sementara keluargaku sangat menerima Key bahkan menghormati Key.
"Ati-ati, Bel. Mungkin sekarang lo berhasil nyembunyiin hubungan kalian dari keluarga Key. Tapi suatu hari lo pasti ngerasain betapa sakitnya perbedaan kalian itu."
Mea benar. Dulu saat hubunganku dan Key baru menginjak satu bulan, saat kakak Key merasa gelagat Key mencurigakan dia langsung mencarikan wanita Legra untuk dijodohkan dengan Key. Key tak bisa menolak, dia memang sangat menghormati keluarganya apa lagi kakaknya. Saat itu hatiku benar-benar hancur. Apalagi jika benar yang kupunya ini adalah hati wanita Kinan, terkutuklah aku menangisinya. Hati wanita kinan seharusnya ditata dengan penuh kesombongan. Kinan selalu menghasilkan keturunan-keturunan terbaik yang bisa menjerat siapapun untuk membuatnya lebih terhormat, bukan untuk terinjak-injak. Lagipula, apa itu perjodohan?? Apa tak cukup ku hina-hina cerita kuno seperti itu di televisi?? Kupikir perjodohan adalah perbuatan manusia primitif, dan pengkotak-kotakan ras manusia adalah perbuatan mahluk yang merasa terlahir dari emas dengan sendirinya, bukan diciptakan Tuhan. Ya, bukan mahluk Tuhan. Apa mereka yang mengerti agama itu tidak tahu bahwa Tuhan bukan tanpa sengaja menciptakan manusia itu dengan berbagai perbedaan? Tuhan pasti menginginkan ciptaan-Nya untuk saling membaur, saling bisa memahami, saling melengkapi, dan saling menutupi bahwa perbedaan itu cuma hal nampak yang diklasifikasikan oleh manusia, karna pada dasarnya Tuhan tak pernah membedakan ciptaan-Nya.
"Kita pasti bisa ngelewatin semua ini, sayang. Aku akan cari cara biar cewek itu iflil sama aku." Key berusaha membesarkan hatiku. Ya, coba saja! Sekalipun itu yang diusahakan Key, tetap saja aku merasa harus ada waktu yang tepat untuk menyadari semua ini bukan hal yang baik. Bukan hal baik untuk masuk ke sistem patriarki lalu harus merusaknya. Bodoh! Mau mengusahakan apa? Tetap saja suatu hari perjodohan yang berhasil Key lewati dengan berbagai cara membuat wanita itu ilfil akan kutemui lagi. Perjodohan yang nantinya akan membuatku semakin terkutuk sebagai Kinan yang lemah.
Satu tahun berhasil kami lewati dengan main kucing-kucingan dari keluarga Key. Celakanya, semakin lama perasaan ini semakin dalam. Karna terlanjur dalam, sering kali Key membuatku sakit saat dia menceritakan keluarganya yang tak pernah ku temui wujudnya. Sungguh tak adil. Keluargaku sangat menghormati Key. Key cukup mengenal kami luar dalam. Sementara aku hanya tau nama-nama keluarganyanya saja.
"Nanti kalau aku jadi sama kamu, aku ngga mau pake nama marga kamu, Key." Key tersentak. Dia menengok ke arahku perlahan. Mulutnya yang masih penuh dengan sushi membuatnya tak bisa bertanya. "ya, aku ngga mau aja ninggalin tradisiku yang ngga pernah pake nama marga, atau pembedaan semacamnya. Kamu tau kenapa kinan ngga punya nama marga? Karna Kinan ngga pernah mau saudaranya terpecah gara-gara beda marga. Aku pun ngga mau pecah dari saudara-saudaraku saat aku harus memakai nama margamu."
Sushi sudah bersih dari mulut Key. Kali ini Key tergagu. "ya... Itu sih... Masalah nanti."
"Kalau kamu ngga bisa mastiin sekarang….” Aku menggantung ucapanku. Teringat kembali ucapan ibuku di benak ini. “Ibu ngga mau kalau gara-gara rasa cintamu itu, keluarga kita harus terhina. Ibu sangat menghormati Key. Dia memang anak yang baik dan sopan. Tapi bukan karna itu akhirnya ibu dan ayahmu harus mengemis restu dari keluarga Key. Tak mau ibu melihatmu harus menikah dengan bantuan pengorbanan keluarga kita yang terhina. Kamu juga masih bisa mendapatkan pria yang lebih baik. Kalau harus mengemis, ibu takkan merestui. Gampang saja. Ibu tak melarang kamu berhubungan dengan Key, tapi ibu sarankan, lupakan dia perlahan-lahan. Kamu pasti bisa.” Aku menghela nafasku, kali ini terasa lebih berat karna pria yang tengah ku tatap ini pria yang paling aku cintai. Lagi, kuteringat ucapan Mea. “Kalaupun nanti lo jadi sama Key, jangan kayak nyokap gue. Ngga pernah mau nyimpen harga diri di atas kepalanya. Alhasil, dihina terus sampe akhirnya bokap nyokap cerai dan gue ngga bisa setiap hari ngeliat bokap gue. Simpen harga diri lo di atas kepala lo! Kalopun ngga lebih tinggi dari mereka, seenggaknya setara. Jangan nunduk! Kecuali lo masih nganggap kita ini orang-orang terjajah. Inget, mereka yang numpang hidup di negara kita. Ngga lucu aja kalo kita harus tunduk sama orang-orang itu. Orang-orang yang memperkaya diri di negara kita, tapi ngga pernah mau ngikutin aturan kita.”
“Kenapa sih mereka ngga mau keturunannya kecampur sama ras lain?”
“Karena mereka pikir, ngga ada keturunan yang lebih baik dari keturuan-keturunan mereka. Itu aja.”
Oke Bella, apa semua itu kurang jelas??? Ku pikir sudah jelas. Tak ada yang lebih salah kecuali telah mencintai seorang Legra begitu dalam. Sekarang, besok, nanti, kapanpun itu kenyataan mengemis restu pasti akan ku hadapi. Sekarang tinggal pilih; cinta atau harga diri yang menurutku lebih berarti?
“Kalau kamu ngga bisa mastiin sekarang... seenggaknya kasih tahu aku rencana kamu buat menghadapi momen horor itu, Key?” Key tak langsung menjawab. Cukup lama dia mencari kata-kata yang harus diucapkannya.
“Masalahnya aku cinta banget sama keluarga aku. Dan aku tau kamu juga cinta sama keluarga kamu. Aku ngga mau kita jadi pembangkang. Tapi aku akan usahain bikin kamu diterima dengan baik di keluarga aku.”
“Usaha kayak apa??”
“Ya, mungkin aku ngga langsung ngenalin kamu sebagai pacar aku, tapi sebagai temen aku. Kita bisa bikin keluargaku sadar dengan sendirinya kalau kamu itu orang yang baik....”
“Tapi aku bukan salah satu ras kamu, Key.” Aku memotong ucapan Key.
“Kita belum nyoba kan, Bel? Kita usaha aja dulu.”
“Kamu tau usaha apa yang lagi aku lakuin sekarang?” Key menggeleng. “Aku lagi berusaha ngilangin rasa cinta aku ke kamu. Sekarang aku cuma butuh bantuan kamu. Karna kalau aku ngelakuin ini sendirian, aku malah semakin ngga bisa. Bantu aku buat ngga terlalu cinta sama kamu. Bantu aku buat perlahan-lahan ngelupain kamu, dengan bantuan kamu aku pasti bisa.”
Key tercengang. Matanya mencari-cari arah dimana dia tak harus berkata apa-apa dan tak harus menjawab keinginanku itu. Key diam. Selama yang tak pernah dia lakukan.
* * *
Sepatu Kaca Punya Siapa © 2008 | Coded by Randomness | Illustration by Wai | Design by betterinpink!

0 komentar:
Posting Komentar