Pages

Jumat, 29 Januari 2010

Hamil

Wanita, wanita… sekeras apapun usahanya tak kan pernah berhasil merebut semua kesubjekan yang dimiliki pria. Memang, kalau dulu ada pepatah yang sangat populer bahwa ‘wanita itu dijajah pria’, kini sebagian kaum wanita sudah berhasil menjajah pria. Malah saat konstruksi sosial kita mengharuskan pria melamar wanita, sebagian adat dan tradisi justru menganut kebalikannya, pria dilamar wanita. Hidup ini kadang terasa sudah adil, ketika wanita juga bisa menjadi subjek dalam segala hal sebagai hak-haknya. Namun tidak dengan yang satu ini. Hamil. Tetap saja wanita itu dihamili, tak bisa menghamili. Itulah yang selalu membuat Kirana marah pada kodratnya. Mengutuk perlakuan Tuhan yang dirasanya sangat tak adil. Dia tengah hamil, kini menginjak usia tujuh bulan. Dan pria yang menghamilinya itu adalah bandot tua yang tengah menunggu gugatan cerainya dikabulkan pengadilan. "Bedebah! 2 bulan lalu bajingan itu masih mengusap-usap perutku, menyandarkan kepalanya, merapatkan sebelah telinganya seperti seorang bapak yang tak sabar menunggu kelahiran anak pertamanya! Gara-gara jalang itu, dia lupa bahwa seharusnya sekarang dia sudah mempersiapkan nama untuk anaknya!"
Sepasang kakinya menopang perjalanan Kirana yang sendirian dengan lapisan karet dari sandal teplek pembalut dampalnya. Kali ini langkahnya tak lagi berat oleh si jabang bayi yang menggelayut di perutnya yang kian hari kian membadut, melainkan oleh beban-beban perceraian yang tengah dirancang apik oleh suaminya. Ular jantan itu sangat pintar membuat gugatan cerainya masuk jadwal sidang. Nampaknya dia sudah tak kerasan berlama-lama dihantui Kirana dan si Jabang bayi yang nanti akan memanggilnya 'bapak'. Hari ini, kamis jam 10 pagi adalah hari pertama pengadilan dan aparatus didalamnya mencampuri urusan rumah tangganya. Kirana tak perlu membayar pengacara. Untuk apa? Keadilanpun sudah tak dipertontonkan lagi di tempat itu. Semuanya bermain dompet. Apalagi, Doni Karyadi sekarang adalah seorang pengusaha sukses, yang sebelumnya cuma pekerja biasa dan akhirnya berhasil dipromosikan sebagai manager.
Sendirian. Kirana hanya sendirian. Seakan cuma dirinya yang perduli dengan kegagalan hidupnya. Tak ada sandaran. Semuanya telah meninggalkan Kirana karena dulu Kirana sendiri yang memutuskan ikatan dengan keluarganya gara-gara menikah dengan lelaki pemabuk itu. Lalu nanti siapa yang akan membantunya menemukan celah untuk tetap bernafas? Masih ada Tuhan. Selalu ada Tuhan dan hadiah kecil yang dua bulan lagi akan segera turun ke dunia. Tanpa bapak? Yang benar saja!
Kirana menyeret langkah-langkah terakhirnya sebelum memasuki ruang sidang sambil berdialog dengan hatinya. Dia mencari-cari Tuhan barangkali tengah berada di hatinya lalu bisa memberikan sedikit belas kasihan-Nya berupa ketegaran seorang wanita. “Ternyata seperti ini toh ruang sidang yang sering aku liat di tv. Thank God. Berkat kasih sayang-Mu, akhirnya aku bisa berada di ruangan yang penuh dengan showbiz tipuan ini. Lihat kebohongan apa yang akan mereka tamparkan padaku! Aku tak sabar menunggu.” Selangkah lagi menduduki kursi panas itu, dia menengok kesana-kemari mencari batang hidung bajingan itu. Ternyata suaminya tidak datang. Hal ini tak usah lah dipertanyakan, karena dengan uangnya, dia bisa membuat mulut S.H-S.H itu menjadi mulutnya. Tak apa, lagi pula melihat wajahnya hanya akan membuat Kirana ingin memuntahkan isi perutnya ke wajah bajingan itu.
Sidang pertama itu berjalan dengan sangat lancar. Kirana tak menyulitkan proses persidangan. Semua pertanyaan dijawabnya dengan baik tanpa kebohongan. Tetap saja, karna uang kejujuran Kirana tak ada artinya lagi. Sudah menuntut pertanggungjawaban tetap saja gelagat pengkabulan gugatan cerai doni jelas nampak. Dengan syarat, Doni masih harus menafkahi Kirana sampai anaknya lahir, karna Kirana hidup sendirian. Tak ada yang menanggungnya, meskipun anak yang dikandung Kirana terbukti bukan anak kandung Doni. Ya, semuanya berjalan lancar, termasuk rasa sakit yang Doni rancang untuk wanita yang seharusnya tengah ia manja-manjakan itu. Masih terngiang jelas di benaknya saat mereka menanyai Kirana tentang status anak yang dikandungnya.
“Apa benar anak yang ada di kandungan saudari itu bukan anak saudara Doni?”
Hari ini sepertinya bapak-bapak dan ibu-ibu yang kompak memakai jubah hitam dengan sedikit plat hijau di lehernya pun ikut mencandai Kirana. Yang benar saja! Lalu anak siapa ini? Seperti Maryam mengandung Isa? Tanpa bapak??? Atau anak Jin?
Mengapa bajingan itu tak langsung saja berkata bahwa dia ingin bercerai karna Kirana sudah tak cantik lagi? Karena semakin perutnya membesar semakin Kirana tak terlihat seperti bidadari yang sering Doni katakan dulu? Sekarang, kalau saja Kirana sedang tidak hamil, dia akan melemparkan surat gugatan cerai pada Doni sebelum lelaki itu yang melakukannya karna Kirana tahu skandal busuk apa yang dia lakukan bersama sekretaris barunya yang cantik, tidak gendut dan tidak hamil.
“Apa saya terlihat seperti pelacur?" kirana membuka mulutnya sambil tak kuasa menitikan air mata di kedua pipinya. "Kalau terlihat begitu anggaplah anak yang saya kandung itu anak yang berasal dari 10 laki-laki. Tapi kalau ada yang masih mempercayai saya, tolong dengarkan tangisan seorang wanita yang akan menjadi janda ini, dengan berpon-pon beban menggelayut di perutnya! Tolong terjemahkan apa tangisan ini seperti tangisan seorang pelacur yang tengah memeras dan menuduh seorang laki-laki yang anda semua percayai tak ikut bertanggung jawab atas kehamilan ini??” Selepas itu, tak ada yang Kirana ingat kecuali ledakan tangisnya dan keputusan hakim untuk melanjutkan perkara di sidang berikutnya. Dan tangisan itu masih menemukan sisa-sisanya saat Kirana sudah duduk di kursi yang berbeda, kursi sebuah taksi.
Putus asa bukanlah hadiah yang diinginkannya dari Tuhan di hari ulang tahunnya ini. Tapi ketegaran. Kirana menginginkan ketegaran yang lebih pantas didapatnya setelah menghadapi berbagai cacian hidup. Dimanakah ketegaran itu?? Apa bisa dilakukan dalam bentuk pembalasan? Jika Kirana tak bisa tegar maka harus ada pembalasan. Pembalasan bahwa Kirana bisa menghamili laki-laki lalu meninggalkan laki-laki itu sesuka hatinya.
“Mbak, ada yang bisa saya bantu?” Supir taksi itu sesekali melihat kaca spionnya, “dari tadi mbak belum kasih tahu saya mbak mau kemana.”
Kirana menjawab, “Saya mau ke tempat pelacuran laki-laki. Dimana saya bisa menghamili salah satu diantaranya.”
“Maksud mbak??” Si supir taksi terpekik.
“Apa bapak mau saya hamili?”

* * *

0 komentar:

Posting Komentar

Sepatu Kaca Punya Siapa © 2008 | Coded by Randomness | Illustration by Wai | Design by betterinpink!