Pages

Kamis, 21 Januari 2010

Sedihnya Jadi Arnet

Namaku Arnet. Keluargaku tak kaya, tak juga miskin. Kami hidup berkecukupan setidaknya kami tak pernah kekurangan pangan dan sandang. Kami hidup di sebuah desa yang--kalau indonesia bisa dibilang negara berkembang, desaku desa berkembang. Selama ini orang tuaku selalu mengajarkanku untuk berteman dengan siapa saja. Tak boleh memilih, karna ketika kita punya banyak teman dengan karakter yang berbeda, kita takkan pernah kehilangan jalan untuk meraih apapun. Mungkin saja kan aku mendapatkan jodohku lewat tangan temanku? Mungkin. Dan tak ku sangka akhirnya aku berubah pikiran, ku kira selama ini tak pernah memilih teman karna Tuhan selalu menjodohkan teman terbaik untukku yang tak pernah mengecilkan hatiku. Namun saat ku berteman dengan Trias, saat aku diekspor ke kota, rasanya aku harus memilih teman.

Trias, Lola dan aku mulai berteman ketika kami dipertemukan di sebuah universitas swasta di jurusan yang sama. Trias dan Lola adalah dua wanita yang sangat cantik yang tak jarang membuatku iri. Dulu ku rasa, mereka berdua telah diberikan kesempurnaan oleh Tuhan, tapi kucabut lagi perspektif itu saat aku tersadar bahwa Trias selalu memandang orang dari harta, fisik dan kecantikannya saja. Pernah suatu hari saat seseorang yang menurutnya tidak cantik (hei, sebenarnya semua wanita itu cantik) memakai baju 'mango' berwarna pink. Sontak dia berkata dengan kesaksian kedua telingaku yang belum tuli, "Tuh cewek ga punya kaca apa di rumah? Baju mango ga cocok kali di muka dia! Kebagusan. Warna pink pula. Kulit item cocoknya pake warna-warna standar". Belum mau aku komentari itu. Sejurus kemudian saat melihat sepasang kekasih yang menaiki 'mercy' entah tipe berapa itu (aku tuna merek), Trias langsung berceloteh ala sombongnya saat melihat wanita yang duduk di sebelah pengemudi, "cewek model begitu gak cocok naik mercy, yang cocok tuh gue!". Sekali lagi belum mau aku komentari. Yang terahir saat dia sangat mendewakan kecantikan Lola, aku bilang begini, "Lola tuh mirip Dara ya? Dari tulang-tulang mukanya. Kalo Dara putih pasti mirip banget.". Trias membantah "Penghinaan lu net! Lola sama Dara bagaikan langit dan bumi kali!". Ya Tuhan, mudah-mudahan selama ini aku hanya salah dengar saja. Seperti itu dia menilai orang, khususnya wanita. Bagaimana dengan aku?? Yang dia bilang temannya. Aku tak cantik, tak langsing, tak kaya, tak bermobil dan tak memakai Blackberry. Kulitku hitam, wajahku berjerawat, baju-bajuku bukan produk sekelas mango, dan aku tak memiliki pacar yang dengan gagahnya membawa mercy. Trias bisa menilai orang-orang dengan begitu picik, dan tak mungkin dia tak menilaiku seperti itu di belakangku.

Lola pun merasakan hal yang sama. Terakhir Lola berkata padaku, Trias tak pernah percaya jika aku juga punya baju-baju bermerek. Selalu saja dia bantah itu, dia pikir baju zara ku bajakan, logoku second hand, dan saat ku baru-baru ini membeli kaos mango dia berkata, "tumben??". Sedih sekali jadi Arnet. Bahkan mungkin suatu hari saat aku lebih kaya darinya, dia akan berpikir aku main dukun. Sakit sekali, baru ku sadari dia itu bukan temanku. Dia tak lebih dari sekedar monster pelahap merek. Sudah tak kuasa, ku bongkar saja semuanya pada Lola. Selama ini Trias tak pernah menyukai cara Lola mengikuti barang-barang miliknya, dia bilang Lola penguntit, dan tak punya style sendiri. Lola tak kaget mendengarnya, dia bilang dia sudah tahu kalau Trias pasti seperti itu menilainya. Sekarang, Lola pun tau saat Trias memuja-muja kecantikan Lola, itu hanya basa-basi-busuk untuk membuat semua orang berkata; "ngga Tri, lo lebih cantik kok!"

0 komentar:

Posting Komentar

Sepatu Kaca Punya Siapa © 2008 | Coded by Randomness | Illustration by Wai | Design by betterinpink!