Pages

Senin, 01 Februari 2010

Busuknya Busuk

Ya tuhan, cantik sekali wanita itu. Keluar dari sebuah butik pakaian branded, dengan membawa beberapa paper bag di tangan kirinya dan menuntun tangan seorang gadis kecil dengan klima jari tangan kanannya. Kurasa umurnya sama denganku, kira-kira 30 tahunan, dan bocah yang tengah di tuntunnya itu mungkin 5 tahunan. Ah, baju yang dikenakannya membuatku iri! Sangat cocok membelit badannya yang ramping. Sementara tubuh gendutku hanya berbalutkan kaos gombrang dan jeans aneh ini. Tak bermerk pula. Aku yakin baju yg dikenakan wanita itu punya harga yang sebanding dengan setengah gaji suamiku. Suamiku yang hanya seorang pekerja tata usaha di sebuah universitas BUMN.

Eh, sebentar. Ku rasa aku sangat mengenali tai lalat yang berada di sebelah kanan hidung mancungnya, tepat di bawah mata bulat indahnya. Apa mungkin dia, Tania??

***

Dwiki adalah seorang pria termanis, tertampan dan terpopuler di kelas kami. Mungkin sudah sampai tarap kampus. Dia yg paling menonjol di kampus kami. Hampir lupa. Dia juga sangat kaya, tentu saja hal itu yang paling membuat cewek-cewek tertarik. Seperti biasa, tokoh seperti itu pasti dijodohkan dengan yang sederajat lagi oleh hukum alam. Makanya, pada saat itu Dwiki dan Tania adalah pasangan paling masuk akal. Kelengkapan bertemu dengan kesempurnaan. Tak jarang membuat orang lain cemburu. Kabarnya mereka sudah bertunangan ketika ayah Tania diponis kanker otak akut. Harusnya mereka segera menikah karna mungkin saja semakin ditunda semakin ayah Tania tak bisa mengambil perannya sebagai wali. Namun ayah Tania tak setuju, dia ingin menunggu Tania dan Dwiki lulus kuliah dulu.

Ku ceritakan lah dulu sifat jalang yang dimiliki oleh bnyak wanita, yaitu selalu ingin memiliki pria yang sudah dimiliki wanita lain. Semakin terikat si pria semakin wanita jalang ingin merebutnya. Termasuk aku, Harumia Kumala. Aku sangat tertarik pada Dwiki, selain karna kesempurnaannya, juga karena dia telah terikat oleh Tania. Tania, Tania. Dia sangat cantik, tak cacat sedikitpun, tapi aku selalu yakin aku bisa mendapatkan kekasihnya.

Tuhan memang maha baik, selalu memberikan hamba-Nya celah, biarpun kecil tapi bisa menjadi sangat besar jika manusia pandai memanfaatkannya. Pada suatu malam, Ia berikan aku kesempatan untuk mengenal Dwiki lebih dari sekedar teman sekelas. Malam itu, di sebuah cafĂ© and lounge saat Gerry—teman sekelas kami—merayakan ulang tahunnya di sana, aku berusaha menawarkan rokokku pada Dwiki. Dia menyambut dengan hangat. Tak pernah dia sehangat itu padaku jika ada Tania. Syukurlah Tania dan tali pengikatnya tak ada. Ku dengar dia harus selalu menjaga ayahnya sepanjang malam karena makin hari, keadaan sang ayah makin memburuk. Ku manfaatkan saja celah itu untuk sedikit bermain dengan gebuan obsesiku. Dari sebatang rokok dan kepulan asapnya, kami berdua turun ke dance floor, ajojing sampai pegal, minum bir sampai mabuk, dan saat kelelahan ku ajak dia beristirahat di sebuah kamar hotel yang ku pesan

Takjubnya tak ada penolakan. Kuperhatikan Dwiki asyik-asyik saja dengan kebinalanku. Seperti yang sudah kuperkirakan, laki-laki bukan lah tempat dimana kesetiaan bisa tumbuh dengan baik Bukan laki-laki kalau dia setia. Bukan laki-laki kalau dia tak gampang tergoda. Mungkin karna selama ini tali yang Tania dan keluarganya ikatan terlalu kencang, maka ia tak bisa bergerak. Kini saat mereka lengah, Dwiki menjadi seorang lelaki sesungguhnya. Seorang penghianat yang dengan asyiknya bersetubuh denganku di ranjang. Tak tahu berapa lama kami menikmatinya, yang jelas kami tertidur sebentar lalu tiba-tiba saja pagi datang dan matahari sudah menyoroti tubuh kami yang terbaring tak berbusana. Handphone Dwiki terus bergetar, rasanya bunyi itu sudah ku dengar dari beberapa jam yang lalu. Mungkin Tania. Sekalian saja kuangkat, biar peranku sebagai tokoh antagonis sukses berat. Apa salahnya merasa menang dibalik sebuah kebusukan? Kurasa itu syah-syah saja, selama aku merasa bahagia. Tania kaget bukan main. Saat itu mungkin dia berharap dia salah memijit nomor telepon. Tapi kenyataanya, itu memang nomor Dwiki, kekasihnya yang sedari malam terus ia hubungi untuk mengabari berita kematian ayahnya. Ups… Saat itu aku tak tahu harus bersikap seperti orang yang menang, atau orang yang terlampau sukses.

* * *

“Masih ingat saya??” Kulempar pertanyaan itu, seakan-akan aku tak pantas untuk menjadi orang yang tak mudah terlupakan.
“Hmmm.. sebentar. Saya lupa-lupa ingat. Memang anda siapa?”. Tania balik bertanya. Sialan! Aku punya peran penting dalam kehancuran hidupnya, masa tak ingat?
“Harum. Universitas Ramada.”Jawabku. Kalau dia tak ingat aku, berarti dia sangat pandai mengubur luka masa lalu.
“Harum… Harumnya… Dwiki?” Bingo!!! Akhirnya dia ingat juga. Dengan jalan yang cukup tragis untuk mengingatku melalui Dwiki, suamiku. Kini rasa kemenangan yang pernah kupunya dulu musnah seketika. Dulu membuat Dwiki berada di sisiku untuk mengalahkan Tania memang sangat membanggakan. Namun kini melihat sosok Tania yang nampak jauh jauh lebih sukses dariku membuatku kehilangan masa keemasan itu. Lihatlah tubuh gendut ini! Lihatlah kaos belel ini! Lihatlah keresek belanjaan yang kubawa ini! Jauh dari kesukseskan yang ku impikan dulu saat berhasil merebut Dwiki dari Tania. Sekarang Tania, yang cantik, masih cantik dan selalu cantik mungkin puas membuat matanya mengolok-olok penampilanku. Biarlah! Yang penting kita satu-sama. Dan aku dulu lebih bisa menyakiti hatinya dibanding kesuksesannya sekarang yang membuat hidupku cemburu.

Dia akhirnya mengajakku makan siang di sebuah restoran yang tak pernah ku tahu isinya seperti apa saking tak mampunya aku. Makanan yang dia pesankan sama sekali tak familiar di telingaku, dan perutku. Menandakan bahwa kami hidup dalam dua kehidupan dan strata sosial yang berbeda. Tania menceritakan kehidupannya selama tak bertemu dengan aku dan Dwiki. Yang kutangkap, dia hanya pamer harta. Suaminya seorang pengusaha berlian. Lengkap dengan 7 perusahaan makanan dan 3 perusahaan telekomunikasi yang semuanya terjamin sukses. Anak Tania sangat cantik, seperti ibunya. Kurasa ayahnya ikut ambil alih menyimpan gen kecantikan itu. Hatiku terus dibakar api cemburu. Masih bisakah dalam penampilan seperti ini aku merebut suaminya? Masih ampuhkah kebinalanku membuat pasangan Tania berhianat lalu meninggalkannya demi aku? Kurasa tidak. Kecuali hidup ini memang panggung komedi.
“Suamimu mana, Har?” Tania bertanya saat santapan kami mendekati detik-detik kepunahan.
“Masih kerja. Katanya mau jemput ke sini.” Habis kalimat itu ku ucapkan, suamiku muncul. Urat-urat wajahnya menganga saat melihat Tania, yang masih sangat dikenalinya. Kudapati mimik aneh di wajah suamiku yang sudah tak pernah ku temukan selama 6 tahun menikah dengannya. Mimik apa itu, suami bodoh!! Mimik menyesal telah menikahi istrinya yang buruk rupa saat melihat bekas calon istrinya yang sangat menawan??? Mimik menyesal telah meninggalkan bekas calon istrinya yang dulu ia hianati sampai membuat perpecahan keluarga mereka lalu memaksa Dwiki untuk tak diakui keluarganya lagi?? Mimik jatuh cinta kembali?? Mimik bodoh!! Kali ini kulihat jelas kekalahan di depanku. Saat kumerasa cemburu pada hidup Tania, saat suamiku menunjukan penyesalannya, dan di lain sisi mata Tania terus membelalakan olokan padaa hidup pasangan suami istri yang gagal. Bahkan kami tak memiliki anak.

Busuk usaha, busuk hasil. Busuk lah pertemuan kami dengan Tania. Seakan hidup ingin menunjukan semua kesalahan dalam peta riwayatku. Tania. Semua yang kau dapatkan memang masuk akal. Begitu juga yang aku dapatkan.

* * *

2 komentar:

desta937 mengatakan...

wew .. heuhue .. kau penulis juga .. dahsyat !

Herdiawan Fajar mengatakan...

Great, bagus ge..see the world from the bitch's shoes hehehehe,and yeah what goes around comes around..

Posting Komentar

Sepatu Kaca Punya Siapa © 2008 | Coded by Randomness | Illustration by Wai | Design by betterinpink!